Rabu, 26 November 2008

Doa yang Menenggelamkan Surga Dunia


"Sungguh doa orang teraniaya akan di ijabah di sisi Allah karena dia meminta haknya dan Allah lebih bijak dari (harus) menahan hak pemiliknya”


Ada tiga nama yang disebut dalam Alqur’an sebagai sumber keonaran dan keruksakan. Semuanya menerima azab Allah di dunia sebelum kelak di akhirat. Mereka adalah ‘Ad, Thamud, dan Fir’aun. Tiga kelompok ini terkenal sebagai orang-orang yang secara angkuh menentang Allah, sekalipun mengajak orang lain untuk melakukan hal yang serupa.

Raja ‘Ad mempunyai dua orang anak, Shadid dan Syddad. Mereka meneuskan usaha ayah dalam mengajak manusia kepada perbuatan syirik. Bahkan Shaddad, setelah kematian saudaranya, ingin membangun sebuah surga di dunia sebagai saingan dari surga yang sering di sebut-sebut oleh Allah dalam kitab-Nya.

Nabi Hud, nabi zaman Raja ‘Ad, berupaya mengajaknya beriman kepada Allah. Disampaikannya wahyu-wahyu Allah kepadanya. Diperingatkannya akan bahaya-bahaya orang-orang yang menentangnya Allah swt. Dan diingatkannya juga bagaimana dahulu pengikut Nabi Nus a.s., tenggelam ditelan badai lantaran pengingkaran mereka kepada risalah-Nya dan bersikap koenfrontatif terhadap rasul-rasul-Nya (lihat Q.S: 7 : 56-70). Tetapi, Syaddad tidak menggubris pesan-pesan sang Nabi, bahkan dia menantang akan mewujudkan nikmat-nikmat surgawi di dunia ini bagi pengikut-pengikutnya.

Syaddad menelaah sifat-sifat syarga yang dijanjikan Allah dalam Alkitab, yaitu berupa istana-istana yang berdiri megah dengan sepuhan emas dan taburan mutiara, dan di bawahnya mengalir air sungai dengan berbagai warna dan rasa dikelilingi pepohonan yang rindang sehingga menciptakan udara yang segar, tidak panas dan tidak juga dingin, di sana-sini berdiri para bidadari yang cantik jelita yang setiap saat siap melayani para penghuninya, dan sebagainya.

Suatu hari Syaddad memanggil seluruh wajir dan pembantu dekatnya. Katanya, “Tuan-tuan ! Hud berkata bahwa Tuhannya telah menjanjikan orang yang beriman dan yang patuh kepada-Nya akan nikmat-nikmat surga. Aku ingin menyaingi-Nya. Aku juga bisa membangun surga seperti itu di dunia ini . bagaimana pendapat kalian!”

“Kami menjunjung tinggi seluruh perintahmu,” jawab para pembantunya secara aklamasi. “Apalagi se;uruh dunia ini berada di bawah kuasamu”.

Sejak itu Syaddad memerintahkan seluruh pegawainya untuk mengumpulkan emas, perak, berlian, dan segala macam batu-batu bernilai lainnya dengan cara apapun. Dia gali seluruh kekayaan alam dan dirampasnya seluruh perhiasan dan barang-barang berharga milik rakyatnya semata-mata karena ingin mewujudkan impiannya.

Setelah mereka menemukan tempat yang sesuai, dengan air sungainya yang mengalir dan pohon-pohon hijau yang rindang, akhirnya mereka mulai membangun sebuah “surga” seperti yang direncanakannya. “Surga” itu kemudian deikenal dengan nama Iram. Alqur’an menyebutnya dengan nama Iram Dzar al-Imad, sebuah kata yang demikian indahnya sehingga Allah berfirman, “Allah lam yukhlaq mithluba fil bilad., sebuah kota unik yang tiada satu pun kota seumpamanya pernah dibangun oleh manusia, dahulu dan kapan pun... (lihat Q.S. 89: 6-11)

Syiddad menghiasi kotanya dengan batu-bata, dari emas dan perak, sejumlah pepohonan disepuhnya dengan perak sementara dahannya dihiasi emas. Mereka bangun ruang-ruang yang dibuat dari baru-batu yang bernilai tinggi. Mereka taburkan yakut merah, intan berlian dan berbagai jenis batu-batuan yang berkilauan. Bahkan, mereka juga menaburkan parpum dan wangi-wangian yang kemudian menebarkan aroma semerbak kota Iram.

Tetapi kemegahan ini berdiri di atas penderiataan rakyat. Seluruh hak milik mereka dirampas. Tenaga mereka dikuras. Mereka dipaksa kerja keras siang dan malam. Tiada hak mereka yang dilindungi. Tiada tempat bagi orang-orang;emah ini mengeluh, banyak wanita akhirnya menjadi janda, anak-anak menjadi yatim. Kemelaratan dan kelaparan menebar di sana-sini, semata-mata karena ingin memenuhi obsesi sang Raja. Bertahun-tahun para algojo Syddad meneror rakyatnya. Tidak ada seorang pun yang berani memprotes apalagi menentang kebijakkan Syaddid, selain beberapa orang mukmin yang menengadahkan tangannya kehadirat Allah Azza wa Jalla. “Atau siapakah (selain Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan …..” (Q.S : 27;62)

Seorang anak yatim yang fakir dan papa suatu hari berjalan di sebuah lorong yang kumuh dan kedil, di lehernya terikat seutas kalung tua yang terbuat dari logam prak senilai dua dirham. Ketika ia berpapasan dengan tentara-tentara Syddad, kalung yang mungil dan tak bernilai ini terlihat oleh para tentara. Mereka rampas kalung itu dengan paksadan membiarkan si anak yatim yang kurus kering ini menangis sedih tanpa daya. Si anak mengangkat kedua tangannya ke hadirat Allah/

Ilahi, Engkau Mahatahu
Apa yang dilakukan oleh orang-orang zalim ini pada hamba-Mu
Tiada tempat kami mengadu melainkan pada-Mu
Engkaulah Tuhan orang-orang teraniaya
Engkaulah tempat mengadu bagi orang-orang papa
Tolonglah kami wahai Yang Maha Penolong
Selamatkah kami dari segala kejahatan Syddad dan orang-orangnya.


Sebuah riwayat mengatakan bahwa doa si yatim kemudian diaminkan oleh para malaikat yang ada di langit.
Saat Syddad ingin meresmikan surganya, tiba-tiba Allah memerintahkan angina bertiup kencang menghancurkan segala keangkuhannya. Bumi mengguncang perutnya dan menelan seluruh kebesaran keluarga ‘Ad

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad, (yaitu) penduduk Iram yang memunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain; dan kaum Thamud yang memotong batu besar di lembah, dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang di dalam negeri itu. Karena itu, Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeri azab. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi” (QS. 89: 6-14).

“Maka tahukah Anda dari doa orang-orang yang teraniaya karena antara dia dan Allah tidak lagi dipisahkan oleh tabir yang membatasi,” begitu pesan Nabi saw.



1 komentar: