Selasa, 23 Desember 2008

Umar bin Khottob Memohon dari Baitulmal


خَيْرُالاُمَرَاءِ مَنْ كَانَ عَلى نَفْسِهِ اَمِيْرًا

"Sebaik-baik pemimpin adalah orang yang menjadi pemimpin terhadap dirinya."


Suatu hari ketika masih kanak-kanak, Abdullah bin Umar datang menemui ayahnya sambil menangis.
“Mengapa kau menangis wahai putraku?” tanya ayah.
“Ayah! Teman-temanku telah menghitung tambalan yang ada di jubah ku sambil mengejek ku. Mereka bilang bahwa putra Amir Al-Mukminin pakai baju compang-camping.”
“Berapa banyak tambalan yang ada pada bajumu?” tanya ayah.
“Kira-kira empat belastambalan,” jawab si anak.

Umar bin Khottab, ayah yang duduk sebagai pemimpin tertinggi di sebuah pemerintahan Islam yang sangat besar tidak berkomentar apa-apa. Baginya, ketika seorang ayah menjadi penguasa tidak berarti anaknya memperoleh seluruh ke istimewaan dan fasilitas. Dia harus tunduk kepada sistem islam yang telah di tentukan oleh Al-Qur’an dalam aspek apa pun, terutama aspek keluarga. Umar mendengar keluhan si anak, kemudian pergi.

Tidak lama setelah itu, dia berpikir untuk meminjam sekadarnya dari Baitulmal atau kas negara. Kelak pada awal bulan ketika telah tiba masa pembagian gaji, dia akan segera membayarnya. Umar kemudian menulis sepucuk surat kepada bendahara Baitulmal sebagai berikut.

Kepada bendahara Baitulmal yang terhormat saya mohon pinjaman sebesar empat dirham. Insya Allah pada awal bulan besok, setelah pembagian gaji dari Baitulmal, saya akan segera melunasinya.


Si bendahara tidak langsung kaget setelah menerima surat dari Khalifah. Dia juga tidak cepat-cepat mengambil uang dari baitulmal lalu mengirimnya kepada sang khalifah. Di mengamati surat itu sangat lama. Dia tahu betul bahwa pemimpinya itu bukan sejenis penguasa yang .memangfaatkan amanat rakyat untuk kepentingan pribadinya. Umar bin Khattab r.a di kenal sebagai pemimpin yang adil dan tegas. Bukan saja dia adil terhadap rakyat sekitarnya, melainkan juga bersikap adil terhadap anak-anaknya dan dirinya.apabila dirinya terbukti salah dalam menjalankan amanat Allah, dia segera akan menegurnya dan mendahulukan amanat tersebut. Apabila dia dihadapkan kepada dua kepentingan, kepentingansi anak dan kepentingan Islam, maka dia akan mendahulukan kepentingan agamanya. Sifat Umar seperti ini sudah umum di ketahui oleh rakyatnya, tidak terkecuali si bendahara Baitulmal ini.
Si bendahara menjawab surat Umar dalam bentuk sebuah pertanyaan.

Kepada Amir al-mukminin Umar bin Khattab
Telah saya baca surat anda tentang permohonan pinjaman dari uang Baitulmal. Aku sekadar ingin bertanya, apakah anda berani bahwa diri anda pasti tetap hidup sampai akhir bulan sehingga aku bisa menagih utang dari Baitulmal dari anda? Seandainya ajal menjemput anda sebelum bulan ini berakhir, apakah anda bisa mempertanggungjawabkanya di hadapan Allah? Wasalam.


Ketika Umar membaca isi surat itu tidak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya. Sebagaimana bendahara khalifah ini juga tahu bahwa meminjam uang dari Baitul mal sah-sah ssaja asal kelak dibayar dengan jujur. Namun, akan terlalu berat resikonya apabila tidak dapat membayar apalagi sampai mengabaikannya. Bukankah ia adalah uang seluruh rakyat yang akan dipertanggungjawabkan kepada seluruh rakyat. Bayangkan, menjarah hak satu orang saja sudah sangat dimurkai oleh Allah, apalagi menjarah hak rakyat banyak. Ketika Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib menjabat sebagai khalifah kaum muslimin dua belas tahun setelah Umar bin Khattab, dia selalu membaca doa’a berikut ketika berurusan dengan baitul mal:

“Ya Allah aku berlindung pada-Mu dari dosa menggugurkan amal baik”
“ Ya Allah aku berlindung pada-Mu dari dosa yang bisa menyegerakan datangnya balasan”
“ Ya Allah aku berlindung pada-Mu dari doasa yang bisa menghalangi terijabahnya do’a”
“ Ya Allah aku berlindung pada-Mu dari dosa yang bisa meruntuhkan penjagaan”
“Ya Allah aku berlindung pada-Mu dari dosa yang bisa membawa pada penyesalan yang berkepanjangan….Amien….:”