Kamis, 18 Maret 2010

Jangan Marah, Bagi Surga

Saudaraku…, sesungguhnya, mengendalikan amarah adalah salah satu keutamaan akhlak. Ketauhilah bahwa Allah itu menyukai kelembutan, sedangkan marah identik dengan sikap kasar dan emosional.

Sesungguhnya kemarahaan yang tidak terkendali bisa berakibat buruk dan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu ketika diminta nasihat atau wasiat oleh salah seorang sahabatnya, beliau memberikan wasiat untuk tidak marah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Janganlah engkau marah. ”Kemudian beliau mengulangi perkataannya beberapa kali, dan bersabda, ”Janganlah engkau marah.” (Riwayat Bukhari)

Diriwayatkan dalam Al-Musnad dari hadist Ibnu Umar, beliau juga pernah bertanya kepada Nabi SAW, ”Apakah yang dapat menjauhkan diriku dari murka Allah?”Janganlah engkau marah.” seorang sahabat bertanya, ”Lalu aku berpikir,dan pada akhirnya aku mendapatkan bahwa kemarahan pusat dari kejahatan.”

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Janganlah engkau marah.”Kemudian beliau mengulangi perkataannya beberapa kali,dan bersabda,”Janganlah engkau marah.”(Riwayat Bukhari)

Diriwayatkan dalam Al-Musnad dari hadist Ibnu Umar, beliau juga pernah bertanya kepada Nabi SAW, ”Apakah yang dapat menjauhkan diriku dari murka Allah? ”Janganlah engkau marah.” seorang sahabat bertanya, ”Lalu aku berpikir, dan pada akhirnya aku mendapatkan bahwa kemarahan pusat dari kejahatan.”

Rasulullah SAW juga bersabda:
Tidaklah kekuatan itu dinilai dengan adu kekuatan (gulat). namun yang kuat itu adalah orang yang dapat menguasai dirinya tatkala marah.” (Muttapaq Alaih)

Jadi wahai saudaraku, hadist ini menjelaskan bahwa kekuatan hakiki tidak terletak pada kekuatan otot dan kekuatan badan, namun pada kekuatannya dalam menguasai diri, khususnya dalam mengendalikan marah. Secara tersirat, hadist ini menjelaskan tentang keutamaan bersikap lemah lembut.

MENAHAN AMARAH TANDA ORANG BERTAQWA

Saudaraku…., sesungguhnya Allah menjanjikan ampunan dan surga kepada orang –orang yang bertaqwa. Siapakah orang yang bertaqwa itu? Yaitu mereka yang melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya. Termasuk mereka yang suka menahan marah.
Allah berfirman:
“Dan bersegeralah kalian mencari ampunan dari Tuhanmu, dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langi dan bumi yang disediakan bagi orang –orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang yang berinfak, baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amrahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (Ali Imran:133-134)

Allah juga memuji orang-orang yang suka memberi maaf apabila mereka marah.
“Dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf.” (Asy-Syura:37)

Karena itulah Saudaraku, engkau sebagai anak shalih, juga harus bisa menahan amarahmu dan suka memaafkan. Kejahatan tidak harus dibalas dengan kejahatan. Penghinaan tidak harus dibalas dengan penghinaan. Bukan dahulu ketika Rasulullah SAW memulai dakwahnya, beliau juga dihina dan dihujat oleh kaumnya? Namun Rasulullah SAW tetap bersabar, dan ketika islam sudah mengalami kejayaan, beliau pun tidak membalas penghnaan kaumnya yang dulu menghinanya.

CARA MENGHILANGKAN MARAH

Bagaimana cara menghilangkanmarah? Rosulullah memberi beberapa resep yang bisa kita amalkan.
Pertama, bila engkau marah, bacalah ta`awudz (a`udzubillaahiminasysyaithaanirrajiim). Karena, pada hakikatnya persaan marah adalah dorongan setan, dan kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari godaan setan. Hal ini dinyatakan dalam hadits berikut, Dua orang saling mengejek di dekat Nabi, lalu salah seorang darinya marah. Nabi nmemandang kepadanya dan berkata, ”Sungguh aku ingin mengajari suatu ucapan yang seandainya ia ucapkan tentu hal itu (kemarahannya) akan hilang darinya Yaitu aku berlindung kepada Allah dari yang terkutuk.” Lalu seorang mendengar (perkataan) Nabi tersebut berdiri menghadap orang tersebut dan berkata, ”Apakah kamu mengerti pertanyaan Rasulullah tadi?” ia menjawab, ”Apakah kamu pandang ini saya gila?”(Riwayat Muslim)

Kedua, bila engkau marah, maka berusalah untuk diam atau tidak banyak berbicara, sebagaimana sabda Nabi, ”Apabila salah seorang di antarakamu marah, maka diamlah.” (Riwayat Ahmad)

ketiga, bila engkau marah dalam keadaan berdiri maka duduklah. Bila duduk masih marah, maka berbaringlah. Karena Nabi bersabda, ”maka apabila salah seorang diantaramu marah dalam keadaan berdiri duduklah, dan apabila keadaan duduk masih marah berbaringlah.”(Riwayat Abu Daud)

Keempat, bila ketiga upaya di atas belum membuahkan hasil, maka berwudhulah, sebagaimana sabda Nabi, ”Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan terbuat dari api dan api hanya bisa dipadamkan oleh air. Oleh karena itu, apabila seorang diantaramu marah, maka berwudhulah.”(Riwayat Abu Daud)

Demikianlah Saudaraku, Bimbingan Rasulullah untuk mengendalikan amarah. Dengan menahan amarah, semoga kita mendapatkan Ridlo-Nya. Amiin.


Jumat, 29 Januari 2010

Mahar Wanita Suci

“Orang yang tidak bisa mengendalikan syahwatnya, tidak akan bisa memiliki akalnya”.


Setelah suaminya wafat, Rabi’ah Al-Adawiyah menjadi pusat perhatian hampir setiap laki-laki yang ada di sekitarnya. Tidak sedikit dari mereka yang terpaut hati kepadanya sebab janda yang agung ini bukan hanya cantik secara fisik, melainkan dia juga wanita ideal secara religius. Al-‘Adawiyah adalah wanita sufi yang sangat masyhur pada zamannya. Dalam menempuh perjalanan rohani, dia telah meninggalkan tidak sedikit pesuluk-pesuluk lawan jenisnya. Dalam kondisi umat yang sangat amoral ketika itu, Al-‘Adawiyah muncul sebagai tokoh sufi yang banyak menyelamatkan umat zamannya dari kejatuhan. Karena itu, namanya terukir indah di setiap hati orang-orang beriman, dan ia menjadi “mitra” sufi tokoh-tokoh seperti Hasan Bashri dan Malik bin Dinar.


Keberadaan Al-‘Adawiyah sebagai janda mengusik hati sejumlah orang yang mengenalnya. Tidak terkecuali sufi besar zamannya, seperti Hasan Bashri, Malik bin Dinar dan Thabit Al-Banna-i,. Mereka ingin meminangnya, karena tidak baik bagi seorang wanita janda sendirian tanpa pendamping yang syar’i, pikir mereka. Namun, mereka berhadapan dengan sebuah pertanyaan besar apabila ingin menyunting Al-‘Adawiyah ini, apakah dirinya akan kufu’ (sepandan secara syari’at) atau tidak sekufu’?

Suatu hari tiga tokoh sufi, Hasan Bashri, Malik bin Dinar, dan Thabit Al-Banna-i sepakat akan bertandang ke rumah Al-‘Adawiyah. Mereka telah berencana untuk melamarnya sebagai istri. Terserah pada Al-‘Adawiyah siapa yang dianggapnya laik untuk menjadi pendampingnya.

“Wahai Rabi’ah, nikah adalah sunnah Nabi saw.,” kata mereka kepada Al-‘Adawiyah. “Dengannya maka sebagian dari agama kita akan terpelihara. Anda adalah orang arif yang tidak laik hidup seorang diri setelah kematian sang suami. Karena itu, pilihlah salah seorang di antara kami sebagai pasangan Anda.”

“Aku mempunyai sejumlah pertanyaan yang apabila salah seorang di antara kalian bisa menjawabnya, aku akan bersedia manjadi istrinya,” tantang Al-‘Adawiyah.
“Saya akan bersedia menjawabnya, insya Allah,” jawab Hasan Bashri.
“Wahai Hasan!” kata Al-‘Adawiyah memulai pertanyaannya. “Ketika kita masih berada di alam miqhat, (alam tempat seluruh manusia memberikan ikrar dan janji setianya kepada Allah swt. (lihat Q.S. 7:172) dan ketika Allah berfirman, si Polan akan berakhir di surga tanpa akau peduli; termasuk dalam golongan mana aku ditentukan oleh Allah wahai Hasan?”

“Aku tidak tahu, “jawab Hasan.
“Ketika malaikat membentukku dalam rahim ibuku, apakah waktu itu aku tercatat sebagai orang yang beruntung atau yang dimurkai oleh Allah?” tanya Al-‘Adawiyah lagi.
“Aku tidak tahu, wahai ‘Adawiyah“ jawab Hasan.
“Kelak pada hari kiamat ketika Allah menyetakan kepada sekelompok orang “jangan kalian khawatir dan bimbang”, dan kepada kelompok lain Allah berkata “celakalah kalian.....”, di kelompok mana aku akan digolongkan pada waktu itu?”

Demi Allah, aku tidak tahu,” jawab Hasan sambil menunduk.
“Kelak kuburan seseorang akan berupa taman surga atau mungkin berupa liang api neraka. Bagaimana rupa kuburanku kelak wahai Hasan?”
“Demi Allah, aku tidak tahu wahai Rabi’ah.”
“Kelak malaikat Munkar dan Nakir akan menanyakan di alam kubur, apakah aku akan bisa menjawabnya?”
“Ini adalah perkara gaib dan hanya Allah sajalah yang mengetahuinya,” jawab Hasan.
“Ketika semua manusia dibangkitkan dan buku-buku catatan mereka dibagikan, ada yang akan menyeambut bukunya dengan tangan kannya dan berakhir dengan keselamatan, ada juga yang akan menyambut bukunya dengan tangan kirinya dan berakhir dengan kemalangan. “Wahai Hasan, dalam kelompok mana aku berada pada saat itu?”
“Demi Allah, aku tidak tahu wahai Rabi’ah.”
“Kelak pada hari akhirat ada sekelompok orang yang berwajah putih dan ada sekelompok lain yang berwajah hitam. Wahai Hasan, di kelompok mana aku akan berada saat itu?” tanya Rabi’ah dengan sungguh-sungguh.
“Sekali lagi aku tidak tahu wahai Rabi’ah,” jawab Hasan.
“Ketika kelak ada sebagian manusia yang dipanggil ke surga dan sebagian yang lainnnya dipanggil ke neraka, dalam kelompok mana aku akan tergolong pada saat itu waha Hasan?”
“Aku tidak tahu hai Rabi’ah,”Jawab Hasan.
“Wahai Hasan, ketika aku sendiri masih belum bisa menjawabnya dan masih berduka panjang karenanya, lalu bagaimana mungkin diri ini akan terpikir dengan urusan nikah. Wahai Hasan, beritahu aku berapa bagian Allah telah ciptakan akal?”
“Sepuluh bagian, sembilan untuk laki-laki dan satu untuk perempuan,” jawab Hasan.
“Berapa bagian Allah telah ciptakan syahwat?”
“Sepuluh bagian juga, sembilan untuk perempuan dan satu untuk laki-laki,” jawab Hasan dengan yakin.
“Wahai Hasan, aku mampu memelihara sembilan bagian dari syahwat dengan satu bagian dari akal sementara kau tak mampu memelihara satu bagian dari syahwat dengan sembilan bagian dari akal,” kata Rabi’ah Al-‘Adawiyah mengakhiri.


Rabu, 20 Januari 2010

Mencari Ajal

Apabila seseorang mati, manusia sekitarnya akan bertanya: apa yang ditinggalkannya? Tapi para malaikat akan bertanya: apa yang dibawanya?. Demi Alloh, keluarkanlah sebagian (dari harta kalian), kelak ia kan menjadi bekal bagi kalian, dan jangan ditinggalkan seluruhnya, kelak ia akan menjadi beban bagi kalian.

(Imam ali bin Abithalib)


“Mengapa sebagian orang Muslim itu takut mati?” tanya salah seorang dari murid Imam Muhammad bin Ali yang dikenal dengan Al-Jawad.
“Karena mereka tidak tahu apa itu mati,” jawab sang Imam. “Apabila mereka tahu dam benar-benar sebagai kekasih Allah, niscaya mereka akan menyukainya. Karena setiap kekasih Allah akan mencari kekasihnya dan bagi kekasih Allah kehidupan di akhira adalah lebih baik ketimbang kehidupan di dunia.”


Imam Jawad yang sering berbicara dengan kata-kata hikmat ini adalah putra Imam Ali Redha r.a. ayah dianggap oleh sebagian tarikat sufi, Thariqat Naqsyabandiah misalnya, sebagai salah seorang dari Imam besar rohani yang hidup pada abad kedua Hijriah. Imam Jawad sendiri adalah seorang Imam suci yang menghirup ilmu-ilmu makrifat langsung dari ayahnya. Ayah memperoleh semua itu dari para leluhurnya yang terus bersambung sampai kepada datuknya yang tertinggi, yakni Rasululloh saw. Kendati demikian, Imam Jawad kadang-kadang berupaya menyederhanakan masalah-masalah yang rumit kepada para muridnya sehingga mereka mudah memahaminya.

“Coba Anda perhatikan anak-anak kecil dan orang-orang yang tak waras. Bukankah mereka tidak suka makan obat padahal obat sangat berguna untuk menyembuhkan penyakit mereka atau menghilangkan derita-derita mereka,” sambung Imam Jawad. “Itu semata-mata karena mereka tidak tahu manfaat obat tersebut. Demikianlah orang yang takut mati. Karena tidak tahu apa itu mati, mereka menyimpan rasa khawatir kepada.”

“Wahai teman-teman!” sambung sang Imam. “Demi Dzat yang telah mengutus Muhammad sebagai Rasul! Orang yang siap menghadapi mati, kapan pun dan dimana pun juga adalah orang yang telah siap dengan bekal yang cukup. Persiapannya itu jauh lebih bermanfaat dari obat yang sangat mujarab bagi seorang pasien yang sakit. Sungguh apabila mereka tahu besarnya nikmat yang akan mereka peroleh setelah kematian, niscaya mereka akan mencarinya dan mencintainya lebih dari usaha seorang pesakit yang mencari obat untuk kesembuhannnya.”

Ajal atau maut memang sebuah misteri yang sangat menakutkan sebagian orang. Betapa tidak, ia pasti akan datang menjemput, cepat atau lambat, di mana saja dan kapan saja. Ia adalah suatu kemestian yang tak dapat di tawar-tawar. Apabila saatnya tiba, tidak seorang pun yang akan bisa meminta untuk menundanya; atau apabila saatnya belum tiba, tidak seorang pun yang akan bisa meminta untuk disegerakan menjemputnya. Orang yang merasa sudah sangat jemu dengan kehidupan dunia lantaran penderitaan yang terlalu banyak atau problema-problema yang tak terselesaikan tidak akan bisa menghardik ajal apabila tiba-tiba ia datang ke hadapannya. Karena itu, ia adlah sebuah misteri yang tidak akan bisa dipahami sampai kapan pun.

Ada dua kategori maut kata Ibnu ‘Arabi. Pertama, adalah al-Maut al-Idhthirari, mati secara terpaksa’ mati yang tidak dikehendaki oleh tuannya. Meskipun ia tahu bahwa dia tidak dapat mengelak. Mati jenis ini adalah suatu kemestian yang tak dapat ditunda. Bukan hanya manusia, juga seluruh benda hidup yang ada di atas dunia yang fana ini. Kedua, adalah Al-Maut Al-Ihktiyari, mati secara rela, yakni tuannya dengan hati yang rela menyambut kedatangan malaikat maut yang akan menjemputnya.

Kelompok kedua ini adalah kelompok manusia yang mencari ajal, bukan yang dicari oleh ajal. Dia melihat bahwa mati bukan sebagai derita, tetapi sebagai pertemuan antara dua kekasih. Kekasih yang nisbi ingin berjumpa dengan Kekasih Yang Mahamutlak. Untuk berjumpa dengan Yang Mahamutlak, dia siap menempuh apa pun jalan yang mungkin bisa mengantarkannya, kendatipun penuh liku-liku dan kendala-kendala yang besar. Apabila kita mendengar ada sekelompok manusia yang berani mati demi tegaknya agama Allah, itu sebenarnya sebuah isyarat bahwa ia memilih Al-Maut Al-Ikhtiyari. Karena baginya kepentingan Sang Kekasih di atas segala kepentingannya. Kepada kelompok ini Allah memanggil mereka dengan sebutan al-Nafs al-Muthmainah, jiwa-jiwa yang damai. Allah swt. Berfirman dalam kitab suci Alqur’an, “Wahai jiwa-jiwa yang damai, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai…..” (89:28)

Bagi orang bertipe ini, maut baginya adalah sebuah nikmat. Dan karena ia adalah nikmat, maka secara sadar dia mencarinya dan mendambakan kehadirannya.

Selasa, 21 April 2009

Harga Sebuah Hidayah


"Seorang pelanggar yang mengakui dosa-dosanya adalah lebih baik dari seorang yang patuh yang berbangga akan amal-amalnya"

Suatu hari Syekh Abu Nasr Al-Samarkandi, pengagum berat Imam Hasan A;-Bashri, pernah bercertia kepada para muridnya perihal tokoh sufi idealnya ini.
“Jauh sebelum Imam Hasan Al-Bashri dikenal sebagai sufi besar dan ketika beliau masih berusia muda,” kata Syekh memulai ceritanya. “Beliau dikenal sebagai pemuda yang sangat tampan dan memikat. Hampir setiap hari beliau memekai pakaian yang elok dan berjalan-jalan di sekitar kota Bashrah. Suatu hari, beliau berpapasan dengan seorang wanita yang cantik jelita pada sebuah lorong kota Bashrah. Selain cantik, mata si wanita sangat memikat hati Hasan muda ini. Tidak puas dengan sekadar melihat, Hasan muda kemudian menguntitnya dari belakang. Diperhatikannya cara wanita ini berjalan sampai kemudian Hasan menyapanya.

“Wahai Polan! Sejak tadi kurasakan engkau mengikutiku. Apakah kau tidak menyimpan sedikit rasa malu?” tanya si wanita.
“Kepada siapa aku harus malu?” Hasan balik bertanya.
“Seharusnya kau malu kepada Allah, Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Tahu terhadap mata-mata yang berkhianat dan apa yang tersembunyi di balik dada.”
Namun, apa daya nafsu Hasan muda lebih menguasai dirinya daripada akal atau imannya. Kendatipun perbuatan itu adalah dosa dan dimurkai oleh Allah, namun tidak jarang memang nafsu manusia bisa mengalahkan rasio dan kalbunya daripada sebaliknya. Akal dan kalbu seharusnya mengaontrol nafsunya.
Karena kecenderungan nafsu menguasai akal lebih besar daripada sebaliknya, untuk mengingatkan diri dan lebih menghayati keharusan memiliki akal yang dominan, munajat mereka seperti berikut.

Illahi qalbi mahjub, wa nafsi ma’yub,
Wa ‘aqli maghlub, wa hawa-i ghalib,
Wa tha’ati qalil, wa ma’shiyati kathir,
Wa lisani muqirrun bi al-dzunub,
Fa kaifa hilati ya sattaral ‘uyub,
Wa ya ‘allamal ghuyub,
Ighfir dzunubi kullaha bi hurmati Muhammadin wa ali Muhammad....”

Illahi,
Hatiku ini telah tertutupi hijab,
Jiwaku ini telah dipenuhi aib,
Akalku ini telah dikalahkan,
Hawa nafsuku ini telah mengalahkan,
Ketaatanku sangat sedikit,
Maksiatku sangat banyak,
Lidahku mengakui dosa-dosanya,
Maka bagaimana kesudahannya,
Wahai Yang Maha Penutup segala aib,
Wahai Yang Mahatahu segala yang gaib,
Ampunilah dosa-dosaku semua
Demi keagungan Muhammad dan keluarganya.

Hasan muda terus mengejar wanita jelita itu. Hatinya bergelora ingin segera berkenalan dengannya. Dia tidak mau peduli dengan siapa pun yang berupaya menghalangi kehendakinya. Sampai kemudian si wanita ini berhenti dan bertanya kepada Hasan, “Wahai Polan! Bisakah kutahu mengapa kau terus menguntitku?”
“Duhai belahan nyawaku!” jawab Hasan muda. “sungguh, hati ini sangat terpikat pada matamu yang sangat indah itu.”
“Kalau begitu, tunggulah di sini, dan sebentar lagi akan kuutus padamu sesuatu yang bisa memenuhi kehendak nafsumu,” jelas wanita itu singkat.
Hasan muda menduga bahwa dirinya tidak bertepuk sebelah tangan. Gayungnya bersambut. Harapan nafsunya yang membakar seluruh jiwanya akan terpenuhi tidak lama lagi. Tidak lama memang. Saat Hasan muda tengah berdiri di persimpangan jalan, tiba-tiba ia didatangi oleh seorang perempuan kecil yang berwajah kumuh. Di tangannya ada nampan kecil yang tertutup kain. Dengan suara yang lemah, perempuan ini berkata, “Tuan, aku diperintahkan oleh majikanku untuk membawa nampan ini kepadamu. Katanya, dia tidak ingin memiliki mata yang dengannya ia mendapat murka dan karenanya seseorang menjadi terpedaya.”
Hasan muda ini kagetnya bukan kepalang. Dia tidak bisa memahami kata-kata perempuan ini. Dia juga tidak tahu apa yang tengah dihadapinya dan apa yang seharusnya dia lakukan. Usai menerima nampan itu, dan setelah ia buaka kain penutupnya, Hasan muda menjerit sambil istigfar kepada Allah berkali-kali. Ternyata dalam nampan itu tergulir dua bola mata indah yang sangat memikat hati Hasan muda tadi. Sembari memegang janggutnya yang terulur rapi, Hasan muda ini berkata kepada dirinya:

Wahai jiwa yang hina dina
Wahai Hasan yang memiliki jiwa yang rendah
Siapakah dirimu di hadapan wanita salehah itu
Takutlah kepada Allah dan mohonlah ampunan dari-Nya

Sejak saat itu Hasan Bashri sangat menyesali perbuatannya. Dia bertobat dengan taubatan nashuha. Dia benar-benar kembali ke haribaan Allah dan meniti perjalanan rohaninya dengan sangat rajin dan sungguh-sungguh, sampai akhirnya dia dikenal sebagai salah seorang dari pemuka tokoh sufi periode awal.


Jumat, 16 Januari 2009

Kultum Malaikat Jibril


"Periharalah agamamu dengan duniamu kelak kau akan untung dari keduanya; dan jangan kau pelihara duniamu dengan agamamu kelak kau akan rugi dari keduanya."

Jibril sering datang kepada Nabi Muhammad untuk menyampaikan wahyu Allah. Dia datang kadang-kadang dalam bentuk rupanya yang asli dan pada kesempatan lain dia datang menyerupai manusia biasa. Tidak jarang, misalnya, dia datang untuk sekedar berkunjung kepada Nabi Muhammad atau ingin memberi kuliah kepada para sahabat yang tengah berkumpul di sekitar Nabi saw. Tentu maksudnya bukan kuliah dalam arti ceramah, apalagi tablig akbar, melainkan dalam bentuk dialog dengan Nabi yang didengar oleh para sahabat yang sedang berkumpul disekitarnya.

Dialog-dialog seperti itu banyak juga diriwayatkan oleh sejumlah sahabat. Berikut kita kutipkan dialog Jibril dengan Nabi seperti yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah Al-Anshari, seorang sahabat yang berasal dari kota Madinah dan tergolong di antara sahabat Nabi yang sangat dekat. ”Suatu hari ketika aku bersama Rasululloh, ”kata Jabir mengawali ceritanya, ”datanglah kepada Nabi seorang laki-laki yang sangat tampan. Wajahnya putih bersih dan bersinar. Rambutnya ikal. Pakaiannya serba putih. Setelah mengucapkan salam, si tamu mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut kepada Rasululloh.

”Wahai Rasulullah! Beritahukan kepadaku apa itu dunia?”
”Dunia adalah laksana mimpi orang tidur,” jawab Nabi.
”Lalu apa itu Akhirat?”
”Akhirat adalah sebuah tempat pemisah antara surga dan neraka.”
”Lalu apa itu surga?”
”Surga adalah sebuah tempat ganti bagi orang yang meninggalkan dunia karena harga sebuah surga adalah meninggalkan dunia.”
”Apa itu neraka?”
”Neraka adalah sebuah tempat ganti bagi orang yang mengejar dunia.”
”Siapa umat yang paling baik?”
”Mereka yang melaksanakan perintah Allah.”
”Bagaimana seharusnya seorang Muslim hidup di dunia ini?”
”Dia harus kuat dan bersemangat baja sedemikan rupa sehingga dia bagaikan seorang yang tengah tertinggal kafilah. Dia akan terus mengejarnya sampai dia mendapatkannya.”
”Berapa lama orang bisa hidup di dunia?”
”Seperti orang yang tertinggal kafilah.”
”Seberapa jauh jarak antara dunia dengan Akhirat?”
”Diantara kerdipan mata.”
usai bertanya, si penanya ini pergi meninggalkan majelis. ”Dia pergi dan hilang tanpa bekas,” kata Jabir kemudian.
”Itulah Malaikat Jibril yang datang kepada kalian ingin mengajarkan arti zuhud di dunia dan menanamkan rasa cinta kepada akhirat,” komentar Nabi setelah kepergiannya.

Kamis, 15 Januari 2009

Bayangan Akhirat di Dunia


"Keindahan politik terletak pada sikap adil ketika memimpin dan memberi maaf ketika berkuasa".
Umar bin Abdul Aziz adalah seorang khalifah yang berasal dari keluarga Bani Umawiyyah. Ia dikenal zuhud dan wara’ dalam beragama. Berbeda dengan para leluhurnya yang dikenal angkuh dan suka menghambur-hamburkan harta kekayaan. Meskipun periode pemerintahannya relatif sangat singkat (99-102 H), namun Umar bin Abdul Aziz telah berhasil merombak sejumlah kebijaksanaan yang berkaitan dengan umat Islam dan akidah mereka.
Sejarah mencatat bahwa Umar bin Abdul Aziz-lah yang pertama kali memulai membaca kalimat Innallaha ya’muru bil’adli wal ihsan….(16:90) dalam setiap khotbah jum’atnya, kemudian memerintahkan seluruh khatib untuk membaca ayat serupa pada bagian kedua dari khotbah Jum’at. Hal ini dilakukannya sebagai ganti dari ketentuan Muawiyah yang mewajibkan setiap mimbar jum’at untuk mencaci Ali dan keluarganya sepanjang hampir empat puluh tahunan
Pemerintah Umar bin Abdul Aziz berjalan dengan penuh keadilan. Dia berupaya menghapus sistem nepotisme yang telah dipraktikan oleh Dinasti Umawiyah puluhan tahun. Dia mendistribusikan kekayaan rakyat secara rata. Dia menanggalkan seluruh jubah kebesarannya dan rela mengenakan pakaian yang sangat sederhana. Dia menderita karena penderitaan rakyat dan memilih untuk puasa daripada melahap fasilitas-fsilitas kerajaan yang diberikan kepadanya. Dia melihat kekuasaan sebagai sebuah amanat bukan sebuah nikmat. Karena amanat, ia harus ditunaikan dengan sempurna. Mengabaikannya bisa berarti khianat kepada hati nurani, kepada rakyat, apalagi kepada Allah.

Suatu hari hamba sahaya perempuannya pernah berkata kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, semalam aku bermimpi tentang sesuatu yang sangat mengharukan.”
“Mimpi apa itu?” tanya sang Khalifah.
“Aku bermimpi tentang hari kiamat. Saat itu semua manusia dibangkitkan oleh Allah; timbangan hisab telah disiapkan dan titian shiratal-mustaqiem juga telah dibentangkan.”

Mendengar tentang shiratal mustaqim atau titian mustaqim yang kelak akan dilewati setiap orang, terbayang dalam benak Umar bin Abdul Aziz akan hadits yang menyatakan bahwa kelak manusia yang akan melewatinya terbagi ke dalam beberapa kelas. Ada kelompok manusia yang sangat cepat dapat melewatinya laksana kilat, ada yang dapat melewatinya secepat lari kuda, ada yang melewatinya dengan merangkak, bahkan ada yang sampaik jatuh bangun. Umar bin Abdul Aziz tahu bahwa aneka ragam manusia yang melewati shirat sebenarnya adalah refleksi dari amal dan kepatuhan mereka kepada Allah di dunia ini. Mereka yang jatuh bangun dalam beramal saleh di dunia. Orang yang merangkak di shirat adalah mereka yang “merangkak” dalam beramal saleh di dunia. Orang yang melewati shirat laksana kilat adalah mereka yang tergolong dalam kelompok orang-orang yang segera menunaikan perintah Allah tanpa pernah menundanya.

“Teruskan cerita mimpimu!” kata Umar bin Abdul Aziz kepada hamba ini

“Kulihat diantara orang pertama yang dihadapkan untuk dihisab adalah Abdul Malik bin Marwan (Penguasa Bani Umaiyah dari tahun 65-86 H)” sambungnya. “Aku melihat para malaikat berkata kepadanya, “Wahai Abdul Malik, jalanlah di atas shiratal-mustaqim ini”.

Kemudian Abdul Malik bin Marwan mulai meletakkan kakinya ingin melangkah. Baru saja ia berjalan selangkah atau dua langkah tiba-tiba ia jatuh ke dalam jurang api neraka. Kudengar suara pekik dan tangisnya mohon ampunan. Tetapi, hari itu adalah hari hisab tanpa bisa beramal, seperti dunia adalah hari amal tanpa hisab.

Berikutnya datang pula putranya, Walid bin Abdul Malik bin Marwan. Para malaikat itu juga berkata kepadanya “Wahai Walid, berjalanlah lewat shiratal mustaqim,” seperti ayahnya, ketika Walid hendak melangkahkan kakinya di atas titian, tiba-tiba ia pun tergelincir dan jatuh ke dalamnya. Begitulah yang terjadi terhadap sejumlah khalifah-khalifal lain.”

Umar bin Abdul Aziz tidak dapat membendung air matanya yang terus mengalir. Dia tahu betul bahwa tanggung jawab seorang Khalifah dan penguasa tidak sama dengan tanggung jawab rakyat biasa. Apabila seorang penguasa bersikap adil, dia akan memperoleh kedudukan yang sangat tinggi di surga. Tetapi, apabila tidak, neraka waylah-lah tempat kembalinya.

“Lalu tibalah giliranmu wahai Amiriul Mukmini.” Kata si hamba secara perlahan.

Sampai di sini tiba-tiba Uamr bin Abdul Aziz berteriak histeris. Tangisnya semakin kuat. Badannya gemetar. Jiwanya kecut. Mukanya pucat. Hatinya seperti luluh lantah dan teriris-iris mengingat hari yang maha dahsyat itu. Teringat dalam benaknya keangkeran api neraka seperti yang dikatakan oleh Allah dalam Kitab-Nya. “(Ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka. (Dikatakan kepada mereka): rasakanlah sentuhan api neraka” (54:48) Umar memukul-mukuli kepalanya dan hampir-hampir pingsan. Wanita itu bingung. Dia tidak menduga bahwa tuannya akan menderita sedemikian rupa lantaran mendengar ceritanya. Dia berusaha menenangkan tuannya, tetapi tidak berasil. Akhirnya, dengan suara yang agak keras dia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, demi Allah aku melihat engkau berhasil melewati shiratal-mustaqim. Engkau dapat sampai ke surga dengan selamat.

Seketika itu juga Umar bin Abdul Aziz reda dan diam kembali. Tetapi, dia tidak bisa bicara. Untuk selanjutnya dia bersikap lebih hati-hati dalam memikul amanat Allah yang mahaberat itu.

Rabu, 07 Januari 2009

Bilal Bercerita tentang Nabi

“Patuhlah kepada yang di atasmu kelak akan patuh orang yang berada di bawahmu; dan benahilah atinmu kelak akan Allah benahi rupa lahiriahmu”.

Bilal Al-Habsyi adalah salah seorang dari sahabat Nabi yang masuk Islam pada pada periode awal risalah. Karena ia memiliki ketakwaan yang tinggi plus suara yang merdu, Nabi mengangkatnya sebagai muazin (juru azan)-nya. Hampir setiap saat dia bersama Nabi dan mengiringi kepergiannya. Karena itu, dia banyak mengetahui sifat-sifat dan karakter Nabi yang sangat terpunji, terutama dalam hal membela orang-orang yang lemah.

“Suatu hari ketika kami masih berada di Mekah, “cerita Bilal mengawali kisahnya, “aku bersama Nabi saw. Berada di rumah Abu Bakar. Tiba-tiba pintu rumah diketuk oleh seorang tamu yang tidak kami kenal. Aku keluar seorang Nasrani (Kristiani) tengah berdiri di depan pintu. “Apakah Muhammad bin Abdullah ada di sini?” tanyanya.
“Ya, Muhammad ada di dalam,” jawabku.

Dengan seizing tuan rumah, si Nasrani akhirnya berjumpa dengan Nabi Muhammad.

“Wahai Muhammad!” kata si Nasrani membuka pembicaraannya. “Apakah benar bahwa anda adalah utusan Allah?”
“Ya, aku adalah Muhammad Rasul Allah,” jawab Muhammad
“Apabila benar, Anda pasti akan mau membelaku dari orang-orang yang telah berlaku zalim kepadaku.”
“Siapa yang telah menzalimimu?” Tanya Muhammad.
“Abu Jahal bin Hisyam. Dia telah merampas hartaku. Karenanya aku berharap kau akan dapat menolongku.”

Muhammad segera berdiri dari tempat duduknya. Beliau langsung pergi menuju tempat kediaman Abu Jahal. Bagi Muhammad, merampas hak milik orang lain adalah perbuatan yang buruk dan tercela; siapa pun yang melakukannya. Apalagi bila yang dirampas adalah harta milik orang-orang yang lemah.

Melihat Nabi Muhammad yang bergegas pergi ke tempat tujuan Abu Jahal, Bilal kemudian berkata, “Ya Rasulullah ! pada saat seperti ini biasanya Abu Jahal tengah beristirahat. Aku khawatir dia akan marah kepadamu bila kau mendatanginya sekarang. Di samping dia juga tidak akan memperdulikan kata-katamu dan tidak akan mendengar tuntutan serta pembelaanmu terhadap si Nasrani ini.”

Muhammad tidak menggubris pernyataan Bilal. Dia tetap saja pergi ke rumah Abu Jahal untuk bisa menemuinya. Dengan wajah yang agak kesal dan hati yang penuh iba kepada nasib si Nasrani yang malang ini, akhirnya Muhammad sampai juga ke rumah Abu Jahal.

Abu Jahal keluar, usai mendengar ketukan pintu. Katanya, “Wahai Muhammad masuklah ! Apakah ada sesuatu yang harus kutunaikan padamu?”
“Ya, aku datang hanya ingin membela si Nasrani yang malang ini, “jawab Muhammad. “Dia berkata bahwa kamu telah merampas hak miliknya dan menganiayanya. Sekarang kumohon agar engkau segera mengembalikannya.”

“Wahai Muhammad! Apakah karena itu lalu kau datang ke rumahku? Seandainya kau utus seseorang untuk memintanya dariku niscaya aku akan mengembalikannya pada si Nasrani ini,” kilah Abu Jahal. “Tidak, sebaiknya jangan kau tunda-tunda lagi hak miliknya. Kembalikan haknya sekarang juga !” desak Muhammad.

Abu Jahal kemudian memerintahkan seluruh budaknya untuk mengembalikan harta milik si Nasrani yang pernah dirampasnya. Setelah selesai, Muhammad masih bertanya kepada si Nasrani,

“Wahai Polan, apakah seluruh hartamu sudah dikembalikan oleh Abu Jahal?”

“Hampir seluruhnya, kecuali sebuah keranjang kecil,” katanya melapor kepada Muhammad.

“Wahai Abu Jahal,” tegas Muhammad. “kembalikan seluruh barangnya. Jangan satu pun yang tersisa padamu.

Abu Jahal kemudian mencari keranjang itu di sudut-sudut rumahnya. Tetapi apa daya, keranjang rampasannya tidak ada di rumah. Sampai kemudian dia menggantinya dengan sebuah keranjang yang lebih baik dan lebih baru.
Istri Abu Jahal protes.
“Demi Allah, “ kata istri Abu Jahal, “mengapa engkau harus tunduk kepada anak yatim Abu Thalib. Mengapa kau begitu hina di hadapan putra Abu Thalib?”

Abu Jahal menjawab, “Wahai istriku, apabila engkau menyaksikan apa yang aku saksikan niscaya engkau tidak akan berkata seperti itu.”

“Apa yang telah engkau saksikan?” Tanya istri Abu Jahal.
“Tapi jangan kau ceritakan kepada kawan-kawanku pinta Abu Jahal. “Demi Hubal, tadinya kusaksikan ada dua singa yang tengah menjaga Muhammad. Setiap kali aku ingin menolak permohonannya kuperhatikan dua singa itu siap akan menerkamku. Karena itu, aku tunduk dan patuh kepadanya.”

Si Nasrani, kata Bila, juga melihat apa yang dilihat Abu Jahal. Dia kemudian berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya aku percaya bahwa engkau adalah Rasul Allah dan agamamu adalah sebaik-baik agama.” Si Nasrani kemudian mengikuti agama Muhammad. Dia menjadi seorang muslim dan menjadi orang yang baik. Hal ini terjadi berkat sikap Nabi Muhammad kepada orang yang dizalimi tersebut.


Selasa, 23 Desember 2008

Umar bin Khottob Memohon dari Baitulmal


خَيْرُالاُمَرَاءِ مَنْ كَانَ عَلى نَفْسِهِ اَمِيْرًا

"Sebaik-baik pemimpin adalah orang yang menjadi pemimpin terhadap dirinya."


Suatu hari ketika masih kanak-kanak, Abdullah bin Umar datang menemui ayahnya sambil menangis.
“Mengapa kau menangis wahai putraku?” tanya ayah.
“Ayah! Teman-temanku telah menghitung tambalan yang ada di jubah ku sambil mengejek ku. Mereka bilang bahwa putra Amir Al-Mukminin pakai baju compang-camping.”
“Berapa banyak tambalan yang ada pada bajumu?” tanya ayah.
“Kira-kira empat belastambalan,” jawab si anak.

Umar bin Khottab, ayah yang duduk sebagai pemimpin tertinggi di sebuah pemerintahan Islam yang sangat besar tidak berkomentar apa-apa. Baginya, ketika seorang ayah menjadi penguasa tidak berarti anaknya memperoleh seluruh ke istimewaan dan fasilitas. Dia harus tunduk kepada sistem islam yang telah di tentukan oleh Al-Qur’an dalam aspek apa pun, terutama aspek keluarga. Umar mendengar keluhan si anak, kemudian pergi.

Tidak lama setelah itu, dia berpikir untuk meminjam sekadarnya dari Baitulmal atau kas negara. Kelak pada awal bulan ketika telah tiba masa pembagian gaji, dia akan segera membayarnya. Umar kemudian menulis sepucuk surat kepada bendahara Baitulmal sebagai berikut.

Kepada bendahara Baitulmal yang terhormat saya mohon pinjaman sebesar empat dirham. Insya Allah pada awal bulan besok, setelah pembagian gaji dari Baitulmal, saya akan segera melunasinya.


Si bendahara tidak langsung kaget setelah menerima surat dari Khalifah. Dia juga tidak cepat-cepat mengambil uang dari baitulmal lalu mengirimnya kepada sang khalifah. Di mengamati surat itu sangat lama. Dia tahu betul bahwa pemimpinya itu bukan sejenis penguasa yang .memangfaatkan amanat rakyat untuk kepentingan pribadinya. Umar bin Khattab r.a di kenal sebagai pemimpin yang adil dan tegas. Bukan saja dia adil terhadap rakyat sekitarnya, melainkan juga bersikap adil terhadap anak-anaknya dan dirinya.apabila dirinya terbukti salah dalam menjalankan amanat Allah, dia segera akan menegurnya dan mendahulukan amanat tersebut. Apabila dia dihadapkan kepada dua kepentingan, kepentingansi anak dan kepentingan Islam, maka dia akan mendahulukan kepentingan agamanya. Sifat Umar seperti ini sudah umum di ketahui oleh rakyatnya, tidak terkecuali si bendahara Baitulmal ini.
Si bendahara menjawab surat Umar dalam bentuk sebuah pertanyaan.

Kepada Amir al-mukminin Umar bin Khattab
Telah saya baca surat anda tentang permohonan pinjaman dari uang Baitulmal. Aku sekadar ingin bertanya, apakah anda berani bahwa diri anda pasti tetap hidup sampai akhir bulan sehingga aku bisa menagih utang dari Baitulmal dari anda? Seandainya ajal menjemput anda sebelum bulan ini berakhir, apakah anda bisa mempertanggungjawabkanya di hadapan Allah? Wasalam.


Ketika Umar membaca isi surat itu tidak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya. Sebagaimana bendahara khalifah ini juga tahu bahwa meminjam uang dari Baitul mal sah-sah ssaja asal kelak dibayar dengan jujur. Namun, akan terlalu berat resikonya apabila tidak dapat membayar apalagi sampai mengabaikannya. Bukankah ia adalah uang seluruh rakyat yang akan dipertanggungjawabkan kepada seluruh rakyat. Bayangkan, menjarah hak satu orang saja sudah sangat dimurkai oleh Allah, apalagi menjarah hak rakyat banyak. Ketika Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib menjabat sebagai khalifah kaum muslimin dua belas tahun setelah Umar bin Khattab, dia selalu membaca doa’a berikut ketika berurusan dengan baitul mal:

“Ya Allah aku berlindung pada-Mu dari dosa menggugurkan amal baik”
“ Ya Allah aku berlindung pada-Mu dari dosa yang bisa menyegerakan datangnya balasan”
“ Ya Allah aku berlindung pada-Mu dari doasa yang bisa menghalangi terijabahnya do’a”
“ Ya Allah aku berlindung pada-Mu dari dosa yang bisa meruntuhkan penjagaan”
“Ya Allah aku berlindung pada-Mu dari dosa yang bisa membawa pada penyesalan yang berkepanjangan….Amien….:”



Sabtu, 29 November 2008

Asal Mula Harta Karun


"Pada harta orang-orang kaya telah Allah wajibkan makanan kaum fakir miskin. Tiada seorang fakir lapar melainkan karena orang kaya yang menahan hartanya dan Allah akan betanya kepada mereka tentangnya."


Qarun bin Yashar bin Qahit bin Lawi bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim as adalah anak saudara Nabi Musa as. Pada mulanya dia adalah sahabat Musa yang cukup dekan dan arif dalam Ilmu Taurat, kitab yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa as. Namun, dia juga sering munafik kepada Nabi Musa, persis halnya Samiri.

Qarun meskipun berteman dengan Musa, tetapi dia adalah salah seorang sahabat Fir’aun juga; sebagian riwayat menyatakan bahwa dia adalah tangan kanannya Fir’aun.

Ketika perintah zakat turun kepada Musa, Qarun yang mahakaya itu hanya mengeluarkan satu dari seribu kekayaannya saja, apabila yang dia miliki adalah seribu dinar atau seribu dirham, dia hanya mengeluarkan satu dinar atau satu dirham saja. Padahal kadar harta zakat yang ditentukan pada syariat Musa adalah 25% dari harta milik. Apalagi Qarun adalah seorang yang demikian kaya sehingga untuk mengangkat anak kunci peti-peti emasnya saja dibutuhkan sampai empat puluh atau enam puluh orang.

Suatu hari ketika Qarun melihat tumpukan emas dan perak dihadapannya, tiba-tiba rasa kikir dalam benaknya mulai mengganggunya. Dia berkata kepada orang-orang sekitarnya. “Wahai Bani Israil, Musa hanya ingin mengambil harta kalian. Karena itu, kita harus pikirkan bagaimana cara mengatasinya.”

“Engaku adalah pemuka bumi dan pemimpin kami. Segala keputusan berada di tanganmu waha Qarun. Kami sepenuhnya akan patuh dan ikut perintahmu,” sahut Bani Israil.

“Aku akan atur sebuah rencana,” kata Qarun bangga. “Panggilkan si Polan, wanita pelacur itu. Aku akan membayarnya sebesar seribu dinar dengan syarat bahwa dia akan mengaku dirinya dizinahi oleh Musa kelak di hadapan khalayak ramai dan sekarang hamil.”

Pada hari yang telah direncanakan itu, Qarun meminta Musa memberikan nasihat-nasihatnya. Katanya, “Wahai Musa, berilah kami sasihat-nasihatmu yang ringkas padat, dan bermakna.”

Musa berdiri dihadapan khalayak ramai dan mulai menasihati mereka. Antara lain Musa berkata, “Siapa yang mencuri kelak kami akan potong tangannya; siapa yang menuduh seseorang melakukan zina maka kami akan menderanya; dan siapa yang berzina sementara dia adalah laki-laki atau wanita yang muhsin, (yang telah mempunyai pasangan) maka kami akan merajamnya…”

“Walaupun engkau sendiri yang melakukannya?” Tanya Qarun kepada Musa.

“Ya, walaupun aku sendiri yang melakukannya,” jawab Musa.

Qarun tiba-tiba dihadapan public. Dengan suara lantang dia berteriak, “Wahai Musa, orang-orang ini berkata bahwa engkau telah berzina dengan si Polan wanita pelacur itu.”

“Panggil dia ke mari,” pinta Musa.

Wanita itu dibawa kehadapan Musa dengan tubuh yang sudah lunglai. Musa kemudian memintanya bersumpah, kemudian berkata, “Wahai Polan, demi Allah yang telah menciptakanmu, menciptakah laut dan yang menurunkan kitab Taurat. Kumohon agar kau berkata jujur dalam pengakuanmu.”

“Wahai Musa engaku bersih dari tuduhan Qarun dan orang-orangnya,” kata wanita ini yang secara tiba-tiba menghancurkan semua plot Qorun. “Qarun telah menyuapku seribu dinar agar aku menuduhmu melakukan perbuatan terkutuk itu. Demi Allah, aku takut kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Mendengar kata-kata wanita itu Musa menjatuhkan diri sujud kepada Allah swt. Sambil menangis. Katanya, “Ya Rabbi, apabila aku adalah Nabi-Mu yang sejati, tolonglah hamba ini.”

Allah kemudian mewahyukan kepada Musa bahwa seluruh dunia dan isinya akan tunduk di bawah penrintahnya. Karena itu, perintahkanlah, segera ia akan patuh.

Musa kemudia berkata kepada khalayak ramai bahwa mereka yang bersama Qarun agar tetap bersamanya; dan mereka yang bersama Musa agar minggir meninggalkan Qarun. Semua yang hadir meninggalkan Qarun kecuali dua orang. Kemudian Musa berkata, “Wahai bumi telanlah mereka.” Maka bumipun menelan mereka hingga ke batas lutut mereka. Musa kemudian berkata lagi, “Wahai bumi telanlah mereka.” Maka bumi menelan mereka hingga ke batas setengah badan. Mereka merintih meminta pertolongan kepada Musa, tetapi Musa berkata lagi kepada bumi dengan kata-kata yang serupa sehingga mereka ditelan oleh perut bumi secara keseluruhan.

Melihat apa yang terjadi di hadapan mata mereka, kaum Nabi Musa, Bani Islrail bergumam bahwa Musa melakukan semua itu semata-mata karena menginginkan harta dan kekayaan Qarun. Ketika Musa mendengar itu, dia bermohon kepada Allah agar semua harta dan kekayaan Qarun ditenggelamkan juga bersamanya.

“Maka kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (Q.S. 28;81)



Rabu, 26 November 2008

Tuntutan Sahabat pada Akhir Hayat Nabi


"Jadilah pamaaf ketika kau berkuasa, pemurah ketika kau susah, mengutamakan kepentingan orang lain ketika kau butuh, kelak kamu akan sempurnalah keutamaanmu."



Abdullah bin Abbas bercerita, “Menjelang wafatnya Nabi saw., diperintahkannya Bilal untuk mengumandangkan suara azan". Para sahabat datang berduyun-duyun ke mesjid Nabawi memenuhi aruan azan itu, meskipun waktu sholat belum tiba. Nabi masuk ke dalam mesjid dan melakukan dua rakaat shalat sunat. Kemudian, dia naik ke atas mimbar dan memulai khotbahnya yang panjang. Beliau ucapkan pujia-pujian kepada Allah Yang Maha Agung sehingga menggetarkan setiap hati yang mendengarnya dan memeras air mata orang yang mengikutiknya. Kemudian Beliau berkata : “Ayyuhal Muslimun, aku adalah Nabi utusan Allah, pemberi nasihat dan pembawa kebenaran kepada kalian. Kedudukan aku di antara kalian bagaikan seorang ayah yang sangat kasih kepada anak-anakmua. Apabila ada di antara kalian yang merasa pernah aku zalimi, kuharap dia mau menuntutnya dariku di dunia ini sebelum datangnya tuntutan yang amat dahsyat pada hari akhirat kelak”


Berulang kali Nabi mengucapkan kata-katanya itu, tetapi tidak ada suara yang mau menanggapinya. Siapa gerangan pengikut Muhammad yang akan merasa tega menuntut Nabi saw. Semua sahabat diam termanggu. Ada yang terisak-isak menangis menyaksikan ketulusan dan keadilan sang Pemimpin agung ini. Mereka tak dapat membayangkan betapa seorang pemimpin yang maha agung dan sudah berkorban segala-galanya demi umatnya, tiba-tiba pada akhir hayatnya dan dalah keadaan badan yang sudah lemah masih menegakkan keadilan seadil-adilnya hatta untuk dirinya sendiri.



Mendengar kata-kata ‘Akasyah seperti itu para sahabat yang duduk di sekitar Nabi merasa seakan disambar petir yang maha dasyat. Mereka pangling. Kerongkongan mereka tersumbat, tidak dapt berbicara. Jantung mereka berdebar keras seperti mau pecah. Suara tangis mereka saling bersahutan dengan suara tangis dinding-dindingmesjid Nabawi yang ikut menyaksikan peristiwa yang amat mendebarkan itu,

“Biarkan ‘Akasyah mengajukan tuntunannya padaku ,”kata Nabi menerangkan hadirin. “Aku lebih bahagia apabila aku bisa meninaikannya di dunia ini sebelum di dunia ini sebelum tibanya sebelum hari kiamat kelak. Wahai ‘Akasyah katakanlah apa yang telah kulakukan terhadap dirimu sehingga kau berhak membalasnya dariku.”

“Ya rasulullah, peristiwa itu terjadi pada ghazwah Badar.”kata’Akasyah mengenang. “Waktu itu untaku persis berada di samping untamu. Aku turun dari untaku karena ingin menghampirimu Tiba-tiba kau angkat kayu penyebat dan kayu mengenai bagian belakangku. Aku tidak tahu apakah kau lakukan itu dengan sengaja atau karna ingin menyebat untamu itu?”

“Wahai ‘Akasyah, Rosul Allah tidak akan mungkin melakukan perbuatan seperti itu dengan sengaja. Tetapi, bagaimnapun kau punya hak untuk membalasnya, “jawab Rasulullah. “Wahai Bilal, pergilah ke rumah Fatimah putriku dan ambil kayu itu di sana,” kata Rasulullah melanjutkan.

Bilal keluar dari mesjid sambil menarik napasnya pajang-panjang. Dia tidak tahu apa yang akan dikatakannya kepada putri kesayangan Nabi saw. Fatimah pasti akan merasa terkejut sekali apabila diketahuinya bahwa ayah dituntut oleh salah seorang sahabatnya. Bukan menuntut harta, melainkan menuntut qishas dengan membalas sebatan Nabi pada punggungnya. Itu pun pada saat-saat akhir hayatnya dan dalam keadaan badan Nabi yang sering sakit-sakitan.

“Wahai Fatimah putri Penghulu alam semesta,” kata Bilal setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam kepada Fatimah. “Nabi meminta sebatang kayu yang dahulunya sering digunakannya untuk menyebat untanya.”

“Untuk apa hai Bilal?” tanya Fatimah ingin tahu.
“Nabi hendak memberikan kayu itu kepada seseorang yang mau mengqishasnya (membalasnya),” jawab Bilal.
“Wahai Bilal, apakah ada orang yang tega memukul Nabi dengan kayu itu?”

Tanpa perlu menjawab, Bilal meninggalkan rumah Fatimah sambil membawa kayu itu. Sesambpainya di mesjid, Bilal memberikan kayu itu kepada Rasululloh yang kemudian memberikannya lagi kepada ‘Akasyah. Abu Bakar dan Umar menyaksikan keajian itu dengan penuh keharuan. Mereka berkata, “Wahai ‘Akasyah, kami mau menjadi tebusan Nabi saw. Balaslah kami asal kau jangan balas jasad Nabi saw.”

“Biarkanlah ‘Akasyah wahai Abu Bakar dan Umar. Sungguh Allah Mahatahu akan kedudukan kalian,” kata Nabi meyakinkan dua sahabat ini.

“Wahai ‘Akasyah jiwa ini adalah tebusannya Nabi saw. Hatiku tidak dapat menerima apa yang akan kaulakukan terhadap Nabi yang mulia. Ini punggungku dan tubuhku. Pukullah aku dengan tanganmu dan sebatlah aku dengan segala kekuatanmu,” kata Ali pilu.
“Tidak hai Ali,” kata Nabi. “Sungguh Allah Mahatahu akan niat dan kedudukanmu.”

Hasan dan Husein, dua cucu Nabi yang sangat disayanginya kemudian berdiri dan berkata dengan suara yang lirih, “Wahai ‘Akasyah, bukankah kautahu bahwa kami adalah cucu Rasululloh saw, darah dagingnya dan cahaya matanya. Mengambil qishas dari kami adalah sama dengan mengambil qishas dari Rasululloh.”

“Tidak hai Hasan dan Husein. Kalian adalah cahaya mata hatiku. Biarkanlah ‘Akasyah melakukan apa yang ingin dilakukannya,” kata Nabi.

“Wahai ‘Akasyah, pukullah aku apabila benar bahwa aku pernah memukulmu,” pinta Rasululloh kepada ‘Akasyah.

“Tapi ya Rasululloh, waktu kaupukul aku, saat itu aku tengah tidak memakai baju,” jawab ‘Akasyah.

Nabi membuka bajunya dan menelungkup siap untuk diambil qishas dari ‘Akasyah. Para sahabat menangis histeris menyaksikan kejadian itu. Tiba-tiba ‘Akasyah membuang kayu yang digenggamnya, lalu memeluk dan menempelkan tubuhnya pada tubuh Rasululloh saw.

Katanya, “Wahai junjungaku Rasululloh, jiwa ini adalah tebusanmu, hati siapa yang tega mengambil qishas darimu. Aku lakukan ini semata-mata berharap badan ini bisa bersentuhan dengan badanmu yang mulia. Denganmu kuharap Allah akan bisa memelihara dari sentuhan api neraka.”

Nabi kemudian bersabda, “Ketahuilah bahwa siapa yang ingin melihat penghuni surga maka lihatlah orang ini.”