Jumat, 06 Agustus 2010

Mereka yang takut kepada Allah Azza wa-Jalla

Dari Abdullah bin Dinar berkata: Saya pergi bersama Ibnu Umar radliyallahu 'anhu ke Makkah, di tengah perjalanan, kami berhenti sebentar untuk istirahat. Tiba-tiba ada seorang penggembala turun dari bukit menuju ke arah kami. Ibnu Umar bertanya kepadanya ," Apakah kamu penggembala?" "Ya", jawabnya.(Ingin mengetahui kejujuran anak kecil penggembala itu) Ibnu Umar melanjutkan, "Juallah kepada saya seokor kambing saja." Anak kecil itu menjawab, " Saya bukan pemilik kambing-kambing ini, saya hanyalah hamba sahaya." "Katakan saja pada tuanmu, bahwa seekor kambingnya dimakan serigala", kata Ibnu Umar radliyallahu 'anhu. "Lalu dimanakah Allah 'Azza wa-Jalla ?", jawab penggembala mantap. Ibnu Umar berguman, "Ya, benar. Dimanakah Allah 'Azza wa-Jalla ?" Kemudian beliau menangis dan dibelinya hamba sahaya tadi lalu dimerdekakan . Diriwayatkan oleh Thabrany, para perawinya tsiqqah. Siyaru A'laamin Nubala`, Abu Muhammad bin Ahmad bin Utsman adz-Dzahaby (wafat th. 748 H.) II/216

Dari Salm bin Basyier, bahwa Abu Huroiroh radliyallahu 'anhu menangis dikala sakit. Ditanyakan kepadanya, "Apa yang membuat anda menangis ?" Beliau menjawab, " Aku bukan menangis terhadap dunia kalian ini, tetapi karena jauhnya perjalanan, sedangkan bekalku sedikit. Aku akan berjalan mendaki, lalu turun menuju jannah atau turun menuju neraka. Aku tidak tahu mana yang akan kutuju." Siyar II/625

Dari Mughirah bin Hakim rohimahullah, Fatimah -istri Umar bin Abdul Aziz rohimahullah- telah berkata, "Mughiroh pernah meberitahu kami bahwa dari sekian banyak orang ada yang shalat dan shiyamnya lebih banyak dari Umar bin Abdul Aziz. Akan tetapi aku belum pernah melihat seseorang yang lebih takut kepada Allah 'Azza wa-Jalla selain beliau. Adalah jika telah selesai menunaikan shalat Isya, beliau duduk di tempat beliau sujud, lalu mengangkat tangannya dan terus menangis sampai tertidur. Kemudian terbangun dan beliau tetap saja berdo'a mengangkat tangan sambil menangis sampai tertidur lagi. Dan begitulah yang beliau lakukan sepanjang malam.Siyar V/137

Dari al-Qosim bin Muhammad, "Kami pergi safar bersama Ibnul Mubarak rohimahullah. Aku selalu bertanya dalam hati, Apa kelebihan orang ini yang menyebabkannya sangat terkenal. Kalau dia sholat, kami juga sholat. Kalau dia shoum, kami juga shoum. Kalau dia berperang, kami juga berperang. Kalau dia pergi haji, kami juga melakukan hal yang sama." al Qosim melanjutkan," Pada suatu saat, di tengah perjalanan ke Syam, kami makan malam di sebuah rumah. Tiba- tiba lampu padam. Sebagian kami berdiri (masuk kamar) untuk mengambil lampu. Tidak lama kemudian seseorang datang dengan lampu menyala.Aku melihat Ibnul Mubarak, ternyata jenggutnya telah basah dengan air mata." Aku berkata dalam hati," Dengan khasyyah ini, rupanya beliau lebih baik dari pada kami. Mungkin ketika lampu padam, ruangan jadi gelap gulita, beliau ingat kematian." (Shifatus-Shafwah, Jamaluddin Abul Faraj Ibnul Jauzy (510-597 H.), IV/129)

Dikatakan kepada Imam Ahmad bin Hambal rohimahullah ," Bagaimana keadaan anda di pagi ini?!" Beliau berkata, " Bagaimana keadaan seseorang sedangkan Robbnya menuntut untuk mengamalkan yang wajib, Nabi menuntutnya untuk mengamalkan yang sunnah, dua Malaikat memintanya untuk memperbaiki amal, jiwanya menyuruhnya untuk mengikuti hawanya, Iblis menggodanya untuk mengamalkan hal-hal yang fahsya' (dosa), sedang Malaikat pencabut nyawa selalu mengintai untuk mencabut nyawanya dan keluarganya selalu menuntutnya untuk memenuhi nafkah sehari-harinya." Siyar, XI/227

sumber : http://soni69.tripod.com

0 komentar:

Posting Komentar