Rabu, 14 Juli 2010

Muka Masam

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta datang kepadanya. Tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberikan manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal, tidak ada (celaan) atasmu kalau mereka tidak membersihkan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bergegas (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya ajaran itu suatu peringatan. Maka siapa yang menghendaki, tentulah ia memperbaikinya. (Ajaran-ajaran itu) terdapat di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para utusan yang mulia lagi (senantiasa) berbakti.” (Abasa: 1 — 6).

Pada suatu malam Rasulullah saw. mengadakan dialog dengan pemimpin-pemimpin Quraisy, seraya mengharap semoga mereka masuk Islam. beliau bertatap muka dengan ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, ‘Amr bin Hisyam alias Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf dan Walid bin Mughirah, ayah Saifullah Khalid bin Walid.

Rasulullah berunding dan bertukar pikiran dengan mereka tentang Islam. Beliau sangat ingin mereka menerima dakwah dan menghentikan penganiayaan terhadap para sahabat beliau. Sementara, beliau berunding dengan sungguh-sungguh, tiba-tiba datanglah seorang yang buta minta dibacakan ayat-ayat Alquran. Katanya, “Ya Rasulullah, ajarkanlah kepadaku ayat-ayat yang telah diajarkan Allah kepada mu !”
Rasulullah terlengah tidak memperdulikan permintaan seorang buta itu. Bahkan, beliau agak acuh terhadap interupsinya itu. Lalu beliau membelakanginya dan melanjutkan pembicaraan dengan para pemimpin Quraisy tersebut. Mudah-mudahan dengan Islamnya mereka, Islam bertambah kuat dan dakwah bertambah lancar. Selesai berbicara dengan mereka, Rasulullah saw. bermaksud pulang. Tetapi, tiba-tiba penglihatan beliau menjadi gelap dan kepala beliau terasa sakit seperti kena pukul. Kemudian, Allah mewahyukan firman-Nya ayat Al-Qur’an yang tercantum di atas Surat Abasa: 1 — 6.

Enam belas ayat itulah yang disampaikan Jibril al-Amin ke dalam hati Rasulullah saw. sehubungan dengan peristiwa seorang laki-laki buta, yang senantiasa dibaca sejak diturunkan sampai sekarang, dan akan terus dibaca sampai hari kiamat.

Sejak hari itu Rasulullah saw. tidak lupa memberikan tempat yang mulia bagi Laki-laki itu apabila dia datang. Beliau menyilakan duduk di tempat duduknya, beliau tanyakan keadaannya, dan beliau penuhi kebutuhannya. Tidaklah heran kalau beliau memuliakannya sedemikian rupa, bukankah teguran dari langit itu sangat keras!


Siapakah laki-laki itu, yang karenanya Nabi yang mulia mendapat teguran dari langit dan menyebabkan beliau sakit? Siapakah dia, yang karena peristiwanya Jibril al-Amin harus turun membisikkan wahyu Allah ke dalam hati Nabi yang mulia? Dia tidak lain adalah Abdullah bin Ummi Maktum, muazzin Rasulullah.

Abdullah Ummi Maktum, orang Mekah suku Quraisy. Dia mempunyai ikatan keluarga dengan Rasulullah saw., yakni anak paman ummul mukminin Khadijah binti Khuwailid r.a. Bapaknya Qais bin Zaid, dan ibunya Atikah binti Abdullah. Ibunya bergelar “ummi maktum”, karena anaknya, Abdullah, lahir dalam kedaan buta total.

Ketika cahaya Islam mulai memancar di Mekah, Allah melapangkan dada Abdullah bin Ummi Maktum menerima agama baru itu. Karena itu, tidak diragukan lagi dia termasuk kelompok yang pertama-tama masuk Islam. Sebagai muslim kelompok pertama, Abdullah turut menanggung segala macam suka dan duka kaum muslimin di Mekah ketika itu. Dia turut menderita siksaan kaum Quraisy seperti yang diderita kawan-kawannya seagama, berupa penganiayaan dan berbagai macam tindak kekerasan lainnya. Tetapi, apakah karena tindak kekerasan itu lantas Ibnu Ummi Maktum menyerah? Tidak?! Dia tidak pernah mundur dan tidak lemah iman. Bahkan, dia semakin teguh berpegang pada agama Islam dan kitab Allah (Alquran). Dia semakin rajin mempelajari syariat Islam dan sering mendatangi majlis Rasulullah.

Begitu rajin dan rakusnya dia mendatangi majlis Rasulullah, menyimak dan menghafal Alquran, sehingga tiap waktu senggang selalu diisinya, dan setiap kesempatan yang baik selalu direbutnya. Karena rewelnya, dia beruntung memperoleh apa yang diinginkan dari Rasulullah, disamping keuntungan bagi yang lain-lain juga.

Sabtu, 05 Juni 2010

IKHLASH

"Barang siapa (tujuan amalnya) hanya menghendaki kesenangan dan deindahan dunia, pasti Kami sempurnakan balasannya di dunia, sedikitpun tidak dikurangi. Itulah orang-orang yang tiada balasannya di akhirat, kecuali neraka, lenyaplah semua amal usahanya dan sia-sialah pekerjaannya". (Hud 15-16)


Al Kisah seorang Ulama pergi ke Madinah, dia bertemu dengan Abu Huraerah berada di tengah-tengah kumpulan orang, kemudian dia bertanya kepadanya sesudah kumpulan orang itu bubar, katanya: "Aku minta (demi Allah) anda menceritakan hadits dari Nabi saw. Jawabnya: "Silahkan duduk baik-baik, dengarkanlah hadits yang aku menmperolehnya langsung dari Rasul saw. dan tiada seorangpun bersama kami, lalu bernafas panjang dan pingsanlah ia, kemudian sadar, seraya mengusap wajahnya ia berkata: "dengarkanlah hadits yang aku perolehnya langsung dari
Rasul saw. demikian itu diulang sampai tiga kali, setelah pingsan tiga kali juga, akhirnya ia berkata: "Rasul saw. bersabda: Ketika saatnya tiba Hari Kiamat, Allah memutuskan semua urusan makhluk-Nya, setiapnya tinduk kepada-Nya, yang pertama dipanggil ialah Pembaca Al-Qur'an, lalu ditanyakan kepadanya: "Kamu telah mempelajari apa yang diwahyukan kepada utusanKu? Jawabnya: Ya Tuhan, lalu apa yang kau amalkan di dalamnya? Aku membacanya di malam ataupun siang hari". Kemudian Allah dan para Malaikat-Nya menyanggahnya: "Kamu telah berbohong, karena semua itu sudah terlaksana di dunia".

Yang kedua adalah Hartawan, lalu ditanyakan kepadanya: Harta yang Aku berikan kepadamu, kau buat apa saja? Jawabnya: Kubelanjakan demi menyambung hubungan sanak famili, dan disedekahkan. Lalu disanggah oleh Allah dan para malaikat-Nya: Kamu bohong, karena semua itu kau lakukan, agar kamu disebut dermawan, dan itu sudah terlaksana.
Yang ketiga ialah, orang mati sabil (syahid), lalu ditanyakan kepadanya: Kenapa kamu terbunuh? Jawabnya: berperang fi sabilillah, lalu disanggah oleh Allah dan para malaikat-Nya: Kamu bohong, karena tujuanmu hanya supaya kamu disebut pahlawan yang gagah berani, dan hal semacam itu sudah terlaksana di dunia.
Kata Abu Hurairah : Lalu Rasululloh saw. menepuk lututku seraya bersabda: "Hai Abu Hurairah, ketiga macam manusia itulah yang paling awal disiksa di neraka". Dan ketika Muawiyah mendengarnya, langsung menangis dan berkata: "Sungguh benar Allah dan Rasul-Nya...."

Sabtu, 22 Mei 2010

SIKSA KUBUR DAN PENDERITAANNYA

Abu Laits As-Samarqandy dengan sanadnya dari Barrak ‘Azib katanya : Kami bersama Rasululloh SAW. Mengiringi mayit shahabat Ansar, setelah sampai di kubur beliau duduk dan kamipun duduk di sekitarnya diam. Sepertinya ada burung di atas kepala kami, kemudian beliau mengangkat kepala seraya bersabda: “Bahwasanya orang mukmin ketika akan mati, didatangi malaikat yang wajahnya putih seperti matahari, mereka duduk didepanya sambil memegang kafan sorga, tidak lama kemudian datang pula malaikat maut duduk di sebelahnya, menyeru kepadanya:
“Hai jiwa yang tenang keluarlah menuju ampunan dan keridlaan Allah (kata Nabi saw.) lalu rohnya mengalir keluar seperti tetesan air, ia diterima dan dimasukkan kafan, kemudian dibawa keluar baunya harum seperti minyak kasturi, selanjutnya dibawa naik. Setiap melewati kumpulan para Malaikat, mereka bertanya: “Ruh siapakah yang harum itu? Dijawab, ruhnya fulan bin fulan, demikian itu hingga ke langit, penghuninya menyambut baik kedatangan ruh tersebut. Setiap menaiki jenjangnya malaikatul Muqarabin mengantarnya hingga langit ke tujuh, Allah berfirman: “Tulislah ketentuannya di sorga ‘Illiyyin”. Lalu dikembalikan ke bumi, karena dari sanalah Kami ciptakan, dan ke dalamnya Kami pulangkan, pada saatnya akan Kami bangkitkan. Maka bergabung lagi ruh tersebut dengan jasadnya di dalam kubur, tidak lama kemudian datanglah malaikat (Malaikat Nakir) seraya bertanya: “Siapa Tujanmu? Jawabnya Allah Tuhanku, Apa agamamu? Jawabnya: “Islam agamaku, Bagaimana tanggapanmu terhadap orang yang diutus di tengah-tengah kamu? Jawabnya: “Beliau utusan Allah, iman kepadanya dan membenarkannya. Maka datanglah panggilan: “Betul hambaku, berikan kepadanya hamparan dan pakaian sorga, dan bukakan pintu yang menuju sorga, agar bau dan hawanya ia nikmati, lapangkan kuburnya sejauh mata memandang, lalu datanglah seorang bagus/tampan dan harum baunya seraya berkata: “Terimalah kabar gembira yang dulu dijanjikan Tuhan”, (Mayit) bertanya: “Siapa sebenarnya kamu ini? Jawabnya: “Aku ini adalah (jelmaan) amalmu yang baik dulu”. Kemudian bertanya: “Ya Allah, segerakan hari Kiamat, agar aku dengan cepat dapat berkumpul bersama-sama keluarga dan sahabat-sahabatku”.

Selanjutnya Nabi saw, besabda:
Adapun orang kafir, ketika akan mati, didatangi malaikat yang hitam mukanya, mereka duduk di depannya, tidak lama kemudian datang pula malaikat maut duduk di sebelahnya, katanya: “Hai ruh jahat, keluarlah menuju kemarahan Allah, tersebarlah ke semua anggota tubuhnya, lalu ruh dicabut, seperti mencabut besi dari bulu basah, urat dan ototnya putus-putus, ia diterima dan dimasukkan kain hitam, dibawa keluar, baunya basin bangkai, lalu dibawa naik. Setiap melewati kumpulan malaikat mereka bertanya: Ruh jahat siapakah yang basin itu? Jawabnya, dengan sebutan yang sangat jelek: Ruh fulan bin fulan, hingga terdengar ke langit, akan masuk tapi pintu tidak dibukakan, (lalu Nabi membaca ayat)

“…….sekali-kali tidak akan dibukakan pintu-pintu langit buat mereka, dan tidak dapat masuk sorga (kecuali jika ada) onta bisa masuk kepada lobang jarum (hal ini tidak mungkin). Demikian balasan orang-orang yang dhalim”. (Al-Araf : 40)


Lalu perintah Allah: “Tulislah ketentuannya di Sijjin, terlemparlah ruh itu, Firman Allah :

“Barang siapa menyekutukan Allah, tidak bedanya seperti terjun dari langit lalu disambar burung besar, atau dibanting angin ke jurang curam sejauhnya”. (Al-Hajj 31)

Kemudian ruh melekat lagi ke tubuhnya di dalam kubur, tidak lama lagi datang Malaikat (Munkar-Nakir) memegangnya dan menggertak: “Siapa Tuhanmu? Jawabnya: Aku tidak kenal, Apa Agamamu? Aku belum mengenalnya. Bagaimana tanggapanmu terhadap orang yang diutus di tengah hidupmu? Itupun aku tidak kenal. Maka datanglah seruan keras: “Dusta dia, hamparkan dan bukakan pintu neraka baginya, lalu terasalah hawa panasnya, kubur menghimpit dan hancurlah tulang rusuknya, tidak lama kemudian datang seorang yang bermuka buruk, basin baunya, seraya menggertak: “Sambutlah hari buruk bagimu, saat yang dulu kamu membantahnya ketika diperingatkan, ditanyalah kepadanya “Siapakah kamu ini? Jawabnya: “Aku adalah laku jahatmu”, katanya, Ya Tuhan, tunda dulu hari Kiamat, jangan keburu hari kiamat”.

Senin, 17 Mei 2010

TEORI CERMIN IMAM GHOZALI

Bagaimanapun roh atau sukma akan kembali kepada Tuhan. Dalam kenyataannya, mengapa manusia seringkali lalai dan lupa kepada Tuhan dan detik-detik kehadirannya di dunia ini justru lebih banyak tersita untuk hal-hal yang bersifat jasadi atau lahiriah belaka?

Imam Ghazali menjawab masalah ini dengan Teori Cermin (al-Mir'ah) dalam karyanya yang sangat terkenal itu --Ihya' 'ulum al-Din. Menurut Imam Ghazali, hati manusia ibarat cermin, sedangkan petunjuk Tuhan bagaikan nur atau cahaya. Dengan demikian jika hati manusia benar-benar bersih niscaya ia akan bisa menangkap cahaya petunjuk Ilahi dan memantulkan cahaya tersebut ke sekitarnya

Sedangkan jika manusia tidak mampu menangkap sinyal-sinyal spiritual dari Tuhan, itu pada dasarnya disebabkan tiga kemungkinan.

  • Pertama, cerminnya terlalu kotor sehingga cahaya Ilahi yang seterang apapun tidak dapat ditangkap dengan cermin rohani yang dimilikinya. Yang termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang dilumuri dengan perbuatan-perbuatan kotor dan aniaya.
  • Kedua, di antara cermin dan sumber cahaya terdapat penghalang yang tidak memungkinkan cahaya Ilahi menerpa cermin tersebut. Yang termasuk dalam kategori ini, orang-orang yang menjadikan harta, tahta dan kesenangan lahir sebagai orientasi hidupnya.
  • Ketiga, cermin tersebut memang membelakangi sumber cahaya hingga memang tak dapat diharapkan dapat tersentuh oleh cahaya petunjuk Ilahi. Contoh yang sangat tepat untuk kategori ini orang-orang kafir yang dengan sadar mengingkari keberadaan Tuhan.

Agar hati manusia selalu dapat menjadi cermin yang bening, ia harus senantiasa berusaha memurnikan diri dengan jalan menguasai nafsu-nafsu rendah serta mengikuti perjalanan hidup para nabi melalui berbagai latihan kerohanian (riyadlah). Inilah yang menerangkan mengapa di lingkungan pesantren dan di kalangan para penganut tarekat, riyadlah atau latihan kerohanian dalam berbagai bentuk amalan sunnah --salat sunnah, puasa Senin, Kamis, puasa Nabi Daud, dan lebih-lebih usaha senantiasa mempertautkan diri dengan Allah melalui dzikirmerupakan hal yang sangat sentral dalam kehidupan sehari-harimereka.

Melaksanakan secara intensif berbagai amalan sunnah tersebut tak lain merupakan usaha mengamalkan sebuah hadits Qudsi sebagai berikut:

"Kepada orang yang memusuhi Wali-Ku, akan Kunyatakan perang. Ibadat yang paling mendekatkan Hamba-Ku, sehingga Aku sayang kepadanya adalah menunaikan semua perintah yang telah Aku berikan. Hamba-Ku adalah mereka yang mendekatkan dirinya kepada-Ku dan melakukan pula hal-hal sunnah yang Aku cintai. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku-lah yang menjadi telinganya yang dipakai untuk mendengar. Aku-lah matanya untuk melihat, Aku-lah tangannya untuk bekerja, dan Aku-lah kakinya untuk berjalan. Apabila dia meminta kepada-Ku akan Aku beri, dan apabila ia meminta perlindungan akan Aku beri. " (Riwayat Bukhari dan Abi Hurairah)

Apabila seseorang telah melaksanakan berbagai ibadah secara intensif, hal itu dalam pandangan kesufian tidak secara otomatis merupakan jaminan bahwa orang tersebut akan sampai pada tujuan hakiki dari ibadah yakni terjalinnya hubungan konstan dengan Allah. Ibadah ritual akan jatuh nilainya menjadi seremonial tanpa isi jika ibadah tersebut dilaksanakan tanpa sikap batin yang dipimpin semata-mata oleh harapan memperoleh ridha Allah.

Sebaliknya sikap batin yang tidak diaktualisasikan dalam bentuk pelaksanann ibadah sebagaimana yang dituntunkan syariat dan dicontohkan oleh Nabi, dipandang sebagai kesombongan spiritual, yang menjurus kapada zindiq (penyelewengan). Dalamkaitan ini Imam Malik, salah seorang pendiri mazhab fiqih yang terkenal, mengatakan bahwa siapa yang bertasawuf tanpa mengamalkan fiqh, ia zindiq dan siapa yang mengamalkan fiqh tanpa bertasawuf, ia fasiq (tak bermoral).

Agar ibadah ritual benar-benar dapat bermakna dan tak jatuh ke nilai seremonial yang tanpa isi, maka di kalangan kaum sufi ibadah ritual selalu dibarengi bahkan didahului oleh penggeledahan dan interogasi diri:
Apakah ibadah yang kita lakukan sudah benar-benar karena Allah dan bukannya karena yang lain?


sumber dari http://soni69.tripod.com/

Kamis, 18 Maret 2010

Jangan Marah, Bagi Surga

Saudaraku…, sesungguhnya, mengendalikan amarah adalah salah satu keutamaan akhlak. Ketauhilah bahwa Allah itu menyukai kelembutan, sedangkan marah identik dengan sikap kasar dan emosional.

Sesungguhnya kemarahaan yang tidak terkendali bisa berakibat buruk dan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu ketika diminta nasihat atau wasiat oleh salah seorang sahabatnya, beliau memberikan wasiat untuk tidak marah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Janganlah engkau marah. ”Kemudian beliau mengulangi perkataannya beberapa kali, dan bersabda, ”Janganlah engkau marah.” (Riwayat Bukhari)

Diriwayatkan dalam Al-Musnad dari hadist Ibnu Umar, beliau juga pernah bertanya kepada Nabi SAW, ”Apakah yang dapat menjauhkan diriku dari murka Allah?”Janganlah engkau marah.” seorang sahabat bertanya, ”Lalu aku berpikir,dan pada akhirnya aku mendapatkan bahwa kemarahan pusat dari kejahatan.”

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Janganlah engkau marah.”Kemudian beliau mengulangi perkataannya beberapa kali,dan bersabda,”Janganlah engkau marah.”(Riwayat Bukhari)

Diriwayatkan dalam Al-Musnad dari hadist Ibnu Umar, beliau juga pernah bertanya kepada Nabi SAW, ”Apakah yang dapat menjauhkan diriku dari murka Allah? ”Janganlah engkau marah.” seorang sahabat bertanya, ”Lalu aku berpikir, dan pada akhirnya aku mendapatkan bahwa kemarahan pusat dari kejahatan.”

Rasulullah SAW juga bersabda:
Tidaklah kekuatan itu dinilai dengan adu kekuatan (gulat). namun yang kuat itu adalah orang yang dapat menguasai dirinya tatkala marah.” (Muttapaq Alaih)

Jadi wahai saudaraku, hadist ini menjelaskan bahwa kekuatan hakiki tidak terletak pada kekuatan otot dan kekuatan badan, namun pada kekuatannya dalam menguasai diri, khususnya dalam mengendalikan marah. Secara tersirat, hadist ini menjelaskan tentang keutamaan bersikap lemah lembut.

MENAHAN AMARAH TANDA ORANG BERTAQWA

Saudaraku…., sesungguhnya Allah menjanjikan ampunan dan surga kepada orang –orang yang bertaqwa. Siapakah orang yang bertaqwa itu? Yaitu mereka yang melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya. Termasuk mereka yang suka menahan marah.
Allah berfirman:
“Dan bersegeralah kalian mencari ampunan dari Tuhanmu, dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langi dan bumi yang disediakan bagi orang –orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang yang berinfak, baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amrahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (Ali Imran:133-134)

Allah juga memuji orang-orang yang suka memberi maaf apabila mereka marah.
“Dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf.” (Asy-Syura:37)

Karena itulah Saudaraku, engkau sebagai anak shalih, juga harus bisa menahan amarahmu dan suka memaafkan. Kejahatan tidak harus dibalas dengan kejahatan. Penghinaan tidak harus dibalas dengan penghinaan. Bukan dahulu ketika Rasulullah SAW memulai dakwahnya, beliau juga dihina dan dihujat oleh kaumnya? Namun Rasulullah SAW tetap bersabar, dan ketika islam sudah mengalami kejayaan, beliau pun tidak membalas penghnaan kaumnya yang dulu menghinanya.

CARA MENGHILANGKAN MARAH

Bagaimana cara menghilangkanmarah? Rosulullah memberi beberapa resep yang bisa kita amalkan.
Pertama, bila engkau marah, bacalah ta`awudz (a`udzubillaahiminasysyaithaanirrajiim). Karena, pada hakikatnya persaan marah adalah dorongan setan, dan kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari godaan setan. Hal ini dinyatakan dalam hadits berikut, Dua orang saling mengejek di dekat Nabi, lalu salah seorang darinya marah. Nabi nmemandang kepadanya dan berkata, ”Sungguh aku ingin mengajari suatu ucapan yang seandainya ia ucapkan tentu hal itu (kemarahannya) akan hilang darinya Yaitu aku berlindung kepada Allah dari yang terkutuk.” Lalu seorang mendengar (perkataan) Nabi tersebut berdiri menghadap orang tersebut dan berkata, ”Apakah kamu mengerti pertanyaan Rasulullah tadi?” ia menjawab, ”Apakah kamu pandang ini saya gila?”(Riwayat Muslim)

Kedua, bila engkau marah, maka berusalah untuk diam atau tidak banyak berbicara, sebagaimana sabda Nabi, ”Apabila salah seorang di antarakamu marah, maka diamlah.” (Riwayat Ahmad)

ketiga, bila engkau marah dalam keadaan berdiri maka duduklah. Bila duduk masih marah, maka berbaringlah. Karena Nabi bersabda, ”maka apabila salah seorang diantaramu marah dalam keadaan berdiri duduklah, dan apabila keadaan duduk masih marah berbaringlah.”(Riwayat Abu Daud)

Keempat, bila ketiga upaya di atas belum membuahkan hasil, maka berwudhulah, sebagaimana sabda Nabi, ”Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan terbuat dari api dan api hanya bisa dipadamkan oleh air. Oleh karena itu, apabila seorang diantaramu marah, maka berwudhulah.”(Riwayat Abu Daud)

Demikianlah Saudaraku, Bimbingan Rasulullah untuk mengendalikan amarah. Dengan menahan amarah, semoga kita mendapatkan Ridlo-Nya. Amiin.


Jumat, 29 Januari 2010

Mahar Wanita Suci

“Orang yang tidak bisa mengendalikan syahwatnya, tidak akan bisa memiliki akalnya”.


Setelah suaminya wafat, Rabi’ah Al-Adawiyah menjadi pusat perhatian hampir setiap laki-laki yang ada di sekitarnya. Tidak sedikit dari mereka yang terpaut hati kepadanya sebab janda yang agung ini bukan hanya cantik secara fisik, melainkan dia juga wanita ideal secara religius. Al-‘Adawiyah adalah wanita sufi yang sangat masyhur pada zamannya. Dalam menempuh perjalanan rohani, dia telah meninggalkan tidak sedikit pesuluk-pesuluk lawan jenisnya. Dalam kondisi umat yang sangat amoral ketika itu, Al-‘Adawiyah muncul sebagai tokoh sufi yang banyak menyelamatkan umat zamannya dari kejatuhan. Karena itu, namanya terukir indah di setiap hati orang-orang beriman, dan ia menjadi “mitra” sufi tokoh-tokoh seperti Hasan Bashri dan Malik bin Dinar.


Keberadaan Al-‘Adawiyah sebagai janda mengusik hati sejumlah orang yang mengenalnya. Tidak terkecuali sufi besar zamannya, seperti Hasan Bashri, Malik bin Dinar dan Thabit Al-Banna-i,. Mereka ingin meminangnya, karena tidak baik bagi seorang wanita janda sendirian tanpa pendamping yang syar’i, pikir mereka. Namun, mereka berhadapan dengan sebuah pertanyaan besar apabila ingin menyunting Al-‘Adawiyah ini, apakah dirinya akan kufu’ (sepandan secara syari’at) atau tidak sekufu’?

Suatu hari tiga tokoh sufi, Hasan Bashri, Malik bin Dinar, dan Thabit Al-Banna-i sepakat akan bertandang ke rumah Al-‘Adawiyah. Mereka telah berencana untuk melamarnya sebagai istri. Terserah pada Al-‘Adawiyah siapa yang dianggapnya laik untuk menjadi pendampingnya.

“Wahai Rabi’ah, nikah adalah sunnah Nabi saw.,” kata mereka kepada Al-‘Adawiyah. “Dengannya maka sebagian dari agama kita akan terpelihara. Anda adalah orang arif yang tidak laik hidup seorang diri setelah kematian sang suami. Karena itu, pilihlah salah seorang di antara kami sebagai pasangan Anda.”

“Aku mempunyai sejumlah pertanyaan yang apabila salah seorang di antara kalian bisa menjawabnya, aku akan bersedia manjadi istrinya,” tantang Al-‘Adawiyah.
“Saya akan bersedia menjawabnya, insya Allah,” jawab Hasan Bashri.
“Wahai Hasan!” kata Al-‘Adawiyah memulai pertanyaannya. “Ketika kita masih berada di alam miqhat, (alam tempat seluruh manusia memberikan ikrar dan janji setianya kepada Allah swt. (lihat Q.S. 7:172) dan ketika Allah berfirman, si Polan akan berakhir di surga tanpa akau peduli; termasuk dalam golongan mana aku ditentukan oleh Allah wahai Hasan?”

“Aku tidak tahu, “jawab Hasan.
“Ketika malaikat membentukku dalam rahim ibuku, apakah waktu itu aku tercatat sebagai orang yang beruntung atau yang dimurkai oleh Allah?” tanya Al-‘Adawiyah lagi.
“Aku tidak tahu, wahai ‘Adawiyah“ jawab Hasan.
“Kelak pada hari kiamat ketika Allah menyetakan kepada sekelompok orang “jangan kalian khawatir dan bimbang”, dan kepada kelompok lain Allah berkata “celakalah kalian.....”, di kelompok mana aku akan digolongkan pada waktu itu?”

Demi Allah, aku tidak tahu,” jawab Hasan sambil menunduk.
“Kelak kuburan seseorang akan berupa taman surga atau mungkin berupa liang api neraka. Bagaimana rupa kuburanku kelak wahai Hasan?”
“Demi Allah, aku tidak tahu wahai Rabi’ah.”
“Kelak malaikat Munkar dan Nakir akan menanyakan di alam kubur, apakah aku akan bisa menjawabnya?”
“Ini adalah perkara gaib dan hanya Allah sajalah yang mengetahuinya,” jawab Hasan.
“Ketika semua manusia dibangkitkan dan buku-buku catatan mereka dibagikan, ada yang akan menyeambut bukunya dengan tangan kannya dan berakhir dengan keselamatan, ada juga yang akan menyambut bukunya dengan tangan kirinya dan berakhir dengan kemalangan. “Wahai Hasan, dalam kelompok mana aku berada pada saat itu?”
“Demi Allah, aku tidak tahu wahai Rabi’ah.”
“Kelak pada hari akhirat ada sekelompok orang yang berwajah putih dan ada sekelompok lain yang berwajah hitam. Wahai Hasan, di kelompok mana aku akan berada saat itu?” tanya Rabi’ah dengan sungguh-sungguh.
“Sekali lagi aku tidak tahu wahai Rabi’ah,” jawab Hasan.
“Ketika kelak ada sebagian manusia yang dipanggil ke surga dan sebagian yang lainnnya dipanggil ke neraka, dalam kelompok mana aku akan tergolong pada saat itu waha Hasan?”
“Aku tidak tahu hai Rabi’ah,”Jawab Hasan.
“Wahai Hasan, ketika aku sendiri masih belum bisa menjawabnya dan masih berduka panjang karenanya, lalu bagaimana mungkin diri ini akan terpikir dengan urusan nikah. Wahai Hasan, beritahu aku berapa bagian Allah telah ciptakan akal?”
“Sepuluh bagian, sembilan untuk laki-laki dan satu untuk perempuan,” jawab Hasan.
“Berapa bagian Allah telah ciptakan syahwat?”
“Sepuluh bagian juga, sembilan untuk perempuan dan satu untuk laki-laki,” jawab Hasan dengan yakin.
“Wahai Hasan, aku mampu memelihara sembilan bagian dari syahwat dengan satu bagian dari akal sementara kau tak mampu memelihara satu bagian dari syahwat dengan sembilan bagian dari akal,” kata Rabi’ah Al-‘Adawiyah mengakhiri.


Rabu, 20 Januari 2010

Mencari Ajal

Apabila seseorang mati, manusia sekitarnya akan bertanya: apa yang ditinggalkannya? Tapi para malaikat akan bertanya: apa yang dibawanya?. Demi Alloh, keluarkanlah sebagian (dari harta kalian), kelak ia kan menjadi bekal bagi kalian, dan jangan ditinggalkan seluruhnya, kelak ia akan menjadi beban bagi kalian.

(Imam ali bin Abithalib)


“Mengapa sebagian orang Muslim itu takut mati?” tanya salah seorang dari murid Imam Muhammad bin Ali yang dikenal dengan Al-Jawad.
“Karena mereka tidak tahu apa itu mati,” jawab sang Imam. “Apabila mereka tahu dam benar-benar sebagai kekasih Allah, niscaya mereka akan menyukainya. Karena setiap kekasih Allah akan mencari kekasihnya dan bagi kekasih Allah kehidupan di akhira adalah lebih baik ketimbang kehidupan di dunia.”


Imam Jawad yang sering berbicara dengan kata-kata hikmat ini adalah putra Imam Ali Redha r.a. ayah dianggap oleh sebagian tarikat sufi, Thariqat Naqsyabandiah misalnya, sebagai salah seorang dari Imam besar rohani yang hidup pada abad kedua Hijriah. Imam Jawad sendiri adalah seorang Imam suci yang menghirup ilmu-ilmu makrifat langsung dari ayahnya. Ayah memperoleh semua itu dari para leluhurnya yang terus bersambung sampai kepada datuknya yang tertinggi, yakni Rasululloh saw. Kendati demikian, Imam Jawad kadang-kadang berupaya menyederhanakan masalah-masalah yang rumit kepada para muridnya sehingga mereka mudah memahaminya.

“Coba Anda perhatikan anak-anak kecil dan orang-orang yang tak waras. Bukankah mereka tidak suka makan obat padahal obat sangat berguna untuk menyembuhkan penyakit mereka atau menghilangkan derita-derita mereka,” sambung Imam Jawad. “Itu semata-mata karena mereka tidak tahu manfaat obat tersebut. Demikianlah orang yang takut mati. Karena tidak tahu apa itu mati, mereka menyimpan rasa khawatir kepada.”

“Wahai teman-teman!” sambung sang Imam. “Demi Dzat yang telah mengutus Muhammad sebagai Rasul! Orang yang siap menghadapi mati, kapan pun dan dimana pun juga adalah orang yang telah siap dengan bekal yang cukup. Persiapannya itu jauh lebih bermanfaat dari obat yang sangat mujarab bagi seorang pasien yang sakit. Sungguh apabila mereka tahu besarnya nikmat yang akan mereka peroleh setelah kematian, niscaya mereka akan mencarinya dan mencintainya lebih dari usaha seorang pesakit yang mencari obat untuk kesembuhannnya.”

Ajal atau maut memang sebuah misteri yang sangat menakutkan sebagian orang. Betapa tidak, ia pasti akan datang menjemput, cepat atau lambat, di mana saja dan kapan saja. Ia adalah suatu kemestian yang tak dapat di tawar-tawar. Apabila saatnya tiba, tidak seorang pun yang akan bisa meminta untuk menundanya; atau apabila saatnya belum tiba, tidak seorang pun yang akan bisa meminta untuk disegerakan menjemputnya. Orang yang merasa sudah sangat jemu dengan kehidupan dunia lantaran penderitaan yang terlalu banyak atau problema-problema yang tak terselesaikan tidak akan bisa menghardik ajal apabila tiba-tiba ia datang ke hadapannya. Karena itu, ia adlah sebuah misteri yang tidak akan bisa dipahami sampai kapan pun.

Ada dua kategori maut kata Ibnu ‘Arabi. Pertama, adalah al-Maut al-Idhthirari, mati secara terpaksa’ mati yang tidak dikehendaki oleh tuannya. Meskipun ia tahu bahwa dia tidak dapat mengelak. Mati jenis ini adalah suatu kemestian yang tak dapat ditunda. Bukan hanya manusia, juga seluruh benda hidup yang ada di atas dunia yang fana ini. Kedua, adalah Al-Maut Al-Ihktiyari, mati secara rela, yakni tuannya dengan hati yang rela menyambut kedatangan malaikat maut yang akan menjemputnya.

Kelompok kedua ini adalah kelompok manusia yang mencari ajal, bukan yang dicari oleh ajal. Dia melihat bahwa mati bukan sebagai derita, tetapi sebagai pertemuan antara dua kekasih. Kekasih yang nisbi ingin berjumpa dengan Kekasih Yang Mahamutlak. Untuk berjumpa dengan Yang Mahamutlak, dia siap menempuh apa pun jalan yang mungkin bisa mengantarkannya, kendatipun penuh liku-liku dan kendala-kendala yang besar. Apabila kita mendengar ada sekelompok manusia yang berani mati demi tegaknya agama Allah, itu sebenarnya sebuah isyarat bahwa ia memilih Al-Maut Al-Ikhtiyari. Karena baginya kepentingan Sang Kekasih di atas segala kepentingannya. Kepada kelompok ini Allah memanggil mereka dengan sebutan al-Nafs al-Muthmainah, jiwa-jiwa yang damai. Allah swt. Berfirman dalam kitab suci Alqur’an, “Wahai jiwa-jiwa yang damai, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai…..” (89:28)

Bagi orang bertipe ini, maut baginya adalah sebuah nikmat. Dan karena ia adalah nikmat, maka secara sadar dia mencarinya dan mendambakan kehadirannya.

Selasa, 21 April 2009

Harga Sebuah Hidayah


"Seorang pelanggar yang mengakui dosa-dosanya adalah lebih baik dari seorang yang patuh yang berbangga akan amal-amalnya"

Suatu hari Syekh Abu Nasr Al-Samarkandi, pengagum berat Imam Hasan A;-Bashri, pernah bercertia kepada para muridnya perihal tokoh sufi idealnya ini.
“Jauh sebelum Imam Hasan Al-Bashri dikenal sebagai sufi besar dan ketika beliau masih berusia muda,” kata Syekh memulai ceritanya. “Beliau dikenal sebagai pemuda yang sangat tampan dan memikat. Hampir setiap hari beliau memekai pakaian yang elok dan berjalan-jalan di sekitar kota Bashrah. Suatu hari, beliau berpapasan dengan seorang wanita yang cantik jelita pada sebuah lorong kota Bashrah. Selain cantik, mata si wanita sangat memikat hati Hasan muda ini. Tidak puas dengan sekadar melihat, Hasan muda kemudian menguntitnya dari belakang. Diperhatikannya cara wanita ini berjalan sampai kemudian Hasan menyapanya.

“Wahai Polan! Sejak tadi kurasakan engkau mengikutiku. Apakah kau tidak menyimpan sedikit rasa malu?” tanya si wanita.
“Kepada siapa aku harus malu?” Hasan balik bertanya.
“Seharusnya kau malu kepada Allah, Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Tahu terhadap mata-mata yang berkhianat dan apa yang tersembunyi di balik dada.”
Namun, apa daya nafsu Hasan muda lebih menguasai dirinya daripada akal atau imannya. Kendatipun perbuatan itu adalah dosa dan dimurkai oleh Allah, namun tidak jarang memang nafsu manusia bisa mengalahkan rasio dan kalbunya daripada sebaliknya. Akal dan kalbu seharusnya mengaontrol nafsunya.
Karena kecenderungan nafsu menguasai akal lebih besar daripada sebaliknya, untuk mengingatkan diri dan lebih menghayati keharusan memiliki akal yang dominan, munajat mereka seperti berikut.

Illahi qalbi mahjub, wa nafsi ma’yub,
Wa ‘aqli maghlub, wa hawa-i ghalib,
Wa tha’ati qalil, wa ma’shiyati kathir,
Wa lisani muqirrun bi al-dzunub,
Fa kaifa hilati ya sattaral ‘uyub,
Wa ya ‘allamal ghuyub,
Ighfir dzunubi kullaha bi hurmati Muhammadin wa ali Muhammad....”

Illahi,
Hatiku ini telah tertutupi hijab,
Jiwaku ini telah dipenuhi aib,
Akalku ini telah dikalahkan,
Hawa nafsuku ini telah mengalahkan,
Ketaatanku sangat sedikit,
Maksiatku sangat banyak,
Lidahku mengakui dosa-dosanya,
Maka bagaimana kesudahannya,
Wahai Yang Maha Penutup segala aib,
Wahai Yang Mahatahu segala yang gaib,
Ampunilah dosa-dosaku semua
Demi keagungan Muhammad dan keluarganya.

Hasan muda terus mengejar wanita jelita itu. Hatinya bergelora ingin segera berkenalan dengannya. Dia tidak mau peduli dengan siapa pun yang berupaya menghalangi kehendakinya. Sampai kemudian si wanita ini berhenti dan bertanya kepada Hasan, “Wahai Polan! Bisakah kutahu mengapa kau terus menguntitku?”
“Duhai belahan nyawaku!” jawab Hasan muda. “sungguh, hati ini sangat terpikat pada matamu yang sangat indah itu.”
“Kalau begitu, tunggulah di sini, dan sebentar lagi akan kuutus padamu sesuatu yang bisa memenuhi kehendak nafsumu,” jelas wanita itu singkat.
Hasan muda menduga bahwa dirinya tidak bertepuk sebelah tangan. Gayungnya bersambut. Harapan nafsunya yang membakar seluruh jiwanya akan terpenuhi tidak lama lagi. Tidak lama memang. Saat Hasan muda tengah berdiri di persimpangan jalan, tiba-tiba ia didatangi oleh seorang perempuan kecil yang berwajah kumuh. Di tangannya ada nampan kecil yang tertutup kain. Dengan suara yang lemah, perempuan ini berkata, “Tuan, aku diperintahkan oleh majikanku untuk membawa nampan ini kepadamu. Katanya, dia tidak ingin memiliki mata yang dengannya ia mendapat murka dan karenanya seseorang menjadi terpedaya.”
Hasan muda ini kagetnya bukan kepalang. Dia tidak bisa memahami kata-kata perempuan ini. Dia juga tidak tahu apa yang tengah dihadapinya dan apa yang seharusnya dia lakukan. Usai menerima nampan itu, dan setelah ia buaka kain penutupnya, Hasan muda menjerit sambil istigfar kepada Allah berkali-kali. Ternyata dalam nampan itu tergulir dua bola mata indah yang sangat memikat hati Hasan muda tadi. Sembari memegang janggutnya yang terulur rapi, Hasan muda ini berkata kepada dirinya:

Wahai jiwa yang hina dina
Wahai Hasan yang memiliki jiwa yang rendah
Siapakah dirimu di hadapan wanita salehah itu
Takutlah kepada Allah dan mohonlah ampunan dari-Nya

Sejak saat itu Hasan Bashri sangat menyesali perbuatannya. Dia bertobat dengan taubatan nashuha. Dia benar-benar kembali ke haribaan Allah dan meniti perjalanan rohaninya dengan sangat rajin dan sungguh-sungguh, sampai akhirnya dia dikenal sebagai salah seorang dari pemuka tokoh sufi periode awal.


Jumat, 16 Januari 2009

Kultum Malaikat Jibril


"Periharalah agamamu dengan duniamu kelak kau akan untung dari keduanya; dan jangan kau pelihara duniamu dengan agamamu kelak kau akan rugi dari keduanya."

Jibril sering datang kepada Nabi Muhammad untuk menyampaikan wahyu Allah. Dia datang kadang-kadang dalam bentuk rupanya yang asli dan pada kesempatan lain dia datang menyerupai manusia biasa. Tidak jarang, misalnya, dia datang untuk sekedar berkunjung kepada Nabi Muhammad atau ingin memberi kuliah kepada para sahabat yang tengah berkumpul di sekitar Nabi saw. Tentu maksudnya bukan kuliah dalam arti ceramah, apalagi tablig akbar, melainkan dalam bentuk dialog dengan Nabi yang didengar oleh para sahabat yang sedang berkumpul disekitarnya.

Dialog-dialog seperti itu banyak juga diriwayatkan oleh sejumlah sahabat. Berikut kita kutipkan dialog Jibril dengan Nabi seperti yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah Al-Anshari, seorang sahabat yang berasal dari kota Madinah dan tergolong di antara sahabat Nabi yang sangat dekat. ”Suatu hari ketika aku bersama Rasululloh, ”kata Jabir mengawali ceritanya, ”datanglah kepada Nabi seorang laki-laki yang sangat tampan. Wajahnya putih bersih dan bersinar. Rambutnya ikal. Pakaiannya serba putih. Setelah mengucapkan salam, si tamu mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut kepada Rasululloh.

”Wahai Rasulullah! Beritahukan kepadaku apa itu dunia?”
”Dunia adalah laksana mimpi orang tidur,” jawab Nabi.
”Lalu apa itu Akhirat?”
”Akhirat adalah sebuah tempat pemisah antara surga dan neraka.”
”Lalu apa itu surga?”
”Surga adalah sebuah tempat ganti bagi orang yang meninggalkan dunia karena harga sebuah surga adalah meninggalkan dunia.”
”Apa itu neraka?”
”Neraka adalah sebuah tempat ganti bagi orang yang mengejar dunia.”
”Siapa umat yang paling baik?”
”Mereka yang melaksanakan perintah Allah.”
”Bagaimana seharusnya seorang Muslim hidup di dunia ini?”
”Dia harus kuat dan bersemangat baja sedemikan rupa sehingga dia bagaikan seorang yang tengah tertinggal kafilah. Dia akan terus mengejarnya sampai dia mendapatkannya.”
”Berapa lama orang bisa hidup di dunia?”
”Seperti orang yang tertinggal kafilah.”
”Seberapa jauh jarak antara dunia dengan Akhirat?”
”Diantara kerdipan mata.”
usai bertanya, si penanya ini pergi meninggalkan majelis. ”Dia pergi dan hilang tanpa bekas,” kata Jabir kemudian.
”Itulah Malaikat Jibril yang datang kepada kalian ingin mengajarkan arti zuhud di dunia dan menanamkan rasa cinta kepada akhirat,” komentar Nabi setelah kepergiannya.

Kamis, 15 Januari 2009

Bayangan Akhirat di Dunia


"Keindahan politik terletak pada sikap adil ketika memimpin dan memberi maaf ketika berkuasa".
Umar bin Abdul Aziz adalah seorang khalifah yang berasal dari keluarga Bani Umawiyyah. Ia dikenal zuhud dan wara’ dalam beragama. Berbeda dengan para leluhurnya yang dikenal angkuh dan suka menghambur-hamburkan harta kekayaan. Meskipun periode pemerintahannya relatif sangat singkat (99-102 H), namun Umar bin Abdul Aziz telah berhasil merombak sejumlah kebijaksanaan yang berkaitan dengan umat Islam dan akidah mereka.
Sejarah mencatat bahwa Umar bin Abdul Aziz-lah yang pertama kali memulai membaca kalimat Innallaha ya’muru bil’adli wal ihsan….(16:90) dalam setiap khotbah jum’atnya, kemudian memerintahkan seluruh khatib untuk membaca ayat serupa pada bagian kedua dari khotbah Jum’at. Hal ini dilakukannya sebagai ganti dari ketentuan Muawiyah yang mewajibkan setiap mimbar jum’at untuk mencaci Ali dan keluarganya sepanjang hampir empat puluh tahunan
Pemerintah Umar bin Abdul Aziz berjalan dengan penuh keadilan. Dia berupaya menghapus sistem nepotisme yang telah dipraktikan oleh Dinasti Umawiyah puluhan tahun. Dia mendistribusikan kekayaan rakyat secara rata. Dia menanggalkan seluruh jubah kebesarannya dan rela mengenakan pakaian yang sangat sederhana. Dia menderita karena penderitaan rakyat dan memilih untuk puasa daripada melahap fasilitas-fsilitas kerajaan yang diberikan kepadanya. Dia melihat kekuasaan sebagai sebuah amanat bukan sebuah nikmat. Karena amanat, ia harus ditunaikan dengan sempurna. Mengabaikannya bisa berarti khianat kepada hati nurani, kepada rakyat, apalagi kepada Allah.

Suatu hari hamba sahaya perempuannya pernah berkata kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, semalam aku bermimpi tentang sesuatu yang sangat mengharukan.”
“Mimpi apa itu?” tanya sang Khalifah.
“Aku bermimpi tentang hari kiamat. Saat itu semua manusia dibangkitkan oleh Allah; timbangan hisab telah disiapkan dan titian shiratal-mustaqiem juga telah dibentangkan.”

Mendengar tentang shiratal mustaqim atau titian mustaqim yang kelak akan dilewati setiap orang, terbayang dalam benak Umar bin Abdul Aziz akan hadits yang menyatakan bahwa kelak manusia yang akan melewatinya terbagi ke dalam beberapa kelas. Ada kelompok manusia yang sangat cepat dapat melewatinya laksana kilat, ada yang dapat melewatinya secepat lari kuda, ada yang melewatinya dengan merangkak, bahkan ada yang sampaik jatuh bangun. Umar bin Abdul Aziz tahu bahwa aneka ragam manusia yang melewati shirat sebenarnya adalah refleksi dari amal dan kepatuhan mereka kepada Allah di dunia ini. Mereka yang jatuh bangun dalam beramal saleh di dunia. Orang yang merangkak di shirat adalah mereka yang “merangkak” dalam beramal saleh di dunia. Orang yang melewati shirat laksana kilat adalah mereka yang tergolong dalam kelompok orang-orang yang segera menunaikan perintah Allah tanpa pernah menundanya.

“Teruskan cerita mimpimu!” kata Umar bin Abdul Aziz kepada hamba ini

“Kulihat diantara orang pertama yang dihadapkan untuk dihisab adalah Abdul Malik bin Marwan (Penguasa Bani Umaiyah dari tahun 65-86 H)” sambungnya. “Aku melihat para malaikat berkata kepadanya, “Wahai Abdul Malik, jalanlah di atas shiratal-mustaqim ini”.

Kemudian Abdul Malik bin Marwan mulai meletakkan kakinya ingin melangkah. Baru saja ia berjalan selangkah atau dua langkah tiba-tiba ia jatuh ke dalam jurang api neraka. Kudengar suara pekik dan tangisnya mohon ampunan. Tetapi, hari itu adalah hari hisab tanpa bisa beramal, seperti dunia adalah hari amal tanpa hisab.

Berikutnya datang pula putranya, Walid bin Abdul Malik bin Marwan. Para malaikat itu juga berkata kepadanya “Wahai Walid, berjalanlah lewat shiratal mustaqim,” seperti ayahnya, ketika Walid hendak melangkahkan kakinya di atas titian, tiba-tiba ia pun tergelincir dan jatuh ke dalamnya. Begitulah yang terjadi terhadap sejumlah khalifah-khalifal lain.”

Umar bin Abdul Aziz tidak dapat membendung air matanya yang terus mengalir. Dia tahu betul bahwa tanggung jawab seorang Khalifah dan penguasa tidak sama dengan tanggung jawab rakyat biasa. Apabila seorang penguasa bersikap adil, dia akan memperoleh kedudukan yang sangat tinggi di surga. Tetapi, apabila tidak, neraka waylah-lah tempat kembalinya.

“Lalu tibalah giliranmu wahai Amiriul Mukmini.” Kata si hamba secara perlahan.

Sampai di sini tiba-tiba Uamr bin Abdul Aziz berteriak histeris. Tangisnya semakin kuat. Badannya gemetar. Jiwanya kecut. Mukanya pucat. Hatinya seperti luluh lantah dan teriris-iris mengingat hari yang maha dahsyat itu. Teringat dalam benaknya keangkeran api neraka seperti yang dikatakan oleh Allah dalam Kitab-Nya. “(Ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka. (Dikatakan kepada mereka): rasakanlah sentuhan api neraka” (54:48) Umar memukul-mukuli kepalanya dan hampir-hampir pingsan. Wanita itu bingung. Dia tidak menduga bahwa tuannya akan menderita sedemikian rupa lantaran mendengar ceritanya. Dia berusaha menenangkan tuannya, tetapi tidak berasil. Akhirnya, dengan suara yang agak keras dia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, demi Allah aku melihat engkau berhasil melewati shiratal-mustaqim. Engkau dapat sampai ke surga dengan selamat.

Seketika itu juga Umar bin Abdul Aziz reda dan diam kembali. Tetapi, dia tidak bisa bicara. Untuk selanjutnya dia bersikap lebih hati-hati dalam memikul amanat Allah yang mahaberat itu.